Taksi Green SM Mogok di Rel, Pakar Otomotif Ungkap Sejumlah Potensi Masalah
BeritaNasional.com - Mobil taksi hijau, Green SM Indonesia yang mogok beberapa menit sebelum tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, menjadi sorotan. Pasalnya, mogoknya taksi listrik ini yang disebut karena ada gangguan kelistrikan dituding sejumlah pihak sebagai penyebab kecelakaan.
Trekait kondisi mobil listrik tersebut, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB),Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan, mobil listrik memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik, sehingga kecil kemungkinan mobil listrik mati mendadak ketika melintasi jalur kereta api (KA).
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan, baik EV maupun mobil berbahan bakar konvensional (ICE),” kata Yannes saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Yannes menjelaskan, mobil listrik modern telah dirancang dengan pelindung interferensi elektromagnetik dan wajib lolos serangkaian uji kompatibilitas sebelum dipasarkan. Standar tersebut mencakup berbagai regulasi internasional seperti ISO 11451 dan ISO 11452 untuk memastikan ketahanan kendaraan dan komponennya terhadap paparan medan elektromagnetik, serta ISO 7637 yang menguji gangguan listrik pada sistem tegangan tinggi.
"Terdapat pula standar CISPR dan regulasi UNECE R10 yang mengatur emisi radiasi serta kompatibilitas elektromagnetik kendaraan," jelas Yannes.
Menurutnya, jika medan magnet rel benar-benar dapat mematikan mobil listrik, hal tersebut seharusnya sudah terdeteksi dalam proses sertifikasi, terutama pada pengujian yang secara spesifik mengukur imunitas terhadap medan magnet.
“Ini adalah regulasi wajib yang harus dipenuhi sebelum kendaraan boleh dipasarkan di banyak negara. Artinya, setiap EV yang dipasarkan secara legal wajib melewati serangkaian pengujian ini.” terang Yannes.
Sebaliknya, Yannes menilai, penyebab paling rasional jika mobil listrik mogok di tengah rel KA berasal dari faktor internal kendaraan. Beberapa kemungkinan antara lain, baterai tegangan rendah 12 volt (aki) yang melemah sehingga mengganggu proses booting sistem utama, gangguan pada sistem sensor akibat getaran berkepanjangan, hingga aktivasi otomatis fitur keamanan seperti immobilizer saat terdeteksi anomali.
“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, ada masalah pada sistem manajemen baterai (BMS) yang juga dapat memicu kesalahan pembacaan arus listrik atau estimasi kapasitas baterai, yang berujung pada keputusan sistem untuk mematikan kendaraan.
“Gangguan komunikasi BMS yang berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan arus listrik, estimasi SOC (State of Charge) yang salah yang berujung misalnya pada pengambilan keputusan sistem seperti padam mendadak.” jelas Yannes.
Kemungkinan lainnya adalah kegagalan inverter atau konverter DC-DC yang dapat menyebabkan hilangnya daya secara tiba-tiba.
Dengan demikian, Yannes menekankan bahwa analisis penyebab kecelakaan perlu difokuskan pada aspek teknis internal kendaraan, bukan pada asumsi pengaruh medan magnet rel kereta.
Sumber: Antara
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu


