Tragedi Stasiun Bekasi Timur: Suami Sempat Minta Harum Anjarsari Turun dari KRL
BeritaNasional.com - Kepergian Harum Anjarsari (30) menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Ia adalah salah satu dari belasan korban yang meninggal dunia dalam kecelakaan tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Duka itu pun tak terbendung, tangis pecah sesaat jenazah Harum diantar ke peristirahatan terakhir oleh keluarga dan kerabat dekat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur pada Rabu (29/4/2026).
Orang tua, suami, dan kedua anak laki-laki korban tampak mengantarkan kepergiannya. Suasana semakin mengharukan saat kesedihan di sekitar liang lahat pecah. Sampai, salah satu anak korban berusia tiga tahun terdengar menyampaikan ucapan di dekat makam sang ibu.
"Ibu aku," ujar salah satu anak almarhum Harum yang digendong nenek atau ibu korban Sri Lestari (58) sembari mendekap dan menguatkan cucunya tersebut. "Sama uti ya, sama kakung ya.”
Sementara suami Harum, Radit yang sebelum mengetahui kabar buruk menimpa istrinya. Telah memiliki, firasat buruk, sejak awal adanya KRL yang menabrak taksi online pada Senin (27/4/2026) malam.
“Dia sempat bilang, ‘Sayang, ini kereta nabrak mobil,’" kata Radit.
Mengetahui hal itu, ia menyarankan istrinya untuk turun dan membagikan lokasi agar bisa dijemput. Tetapi Harum memilih tetap berada di KRL arah Cikarang yang dinaikinya.
Waktu berlalu, tetapi Harum tak kunjung tiba, rasa cemas Radit semakin menguat. Hingga akhirnya, ia bersama anaknya turut menyusul Harum ke Stasiun Bekasi Timur dari Stasiun Tambun.
Harum, Radit, dan anak-anaknya diketahui tinggal di rumah kontrakan di daerah Tambun, Kabupaten Bekasi. Situasi di sekitar stasiun saat itu sudah kacau. Upaya pencarian pun dilakukan hingga ke sejumlah rumah sakit, namun tak membuahkan hasil.
"40 menit, enggak nyampe-nyampe, akhirnya saya ke Bekasi Timur sama anak saya yang kecil. Udah chaos, saya pulang dulu ke Tambun, ke Jijalet, nidurin anak saya," katanya.
"Terus saya berangkat sama dua teman saya tuh, cek RSUD, di RSUD juga enggak ada. Nah, terus ada yang nelpon, ibu mertua saya nelpon, 'Coba telepon lagi ke nomornya Harum,' kata ibu mertua saya," sambung dia.
Harapan sempat muncul ketika ponsel Harum masih aktif dan berhasil dihubungi. Namun, suara bukanlah sang istri, melainkan petugas pemadam kebakaran (Damkar) yang menemukan ponsel tersebut di lokasi kejadian.
“Saya tanya bagaimana orangnya, tapi petugas tidak berani memastikan,” tutur Radit.
Sampai akhirnya, Radit mengetahui kabar istrinya telah menjadi salah satu korban meninggal dunia di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepastian itu, didapatnya usai melalui proses identifikasi forensik hingga dipastikan korban adalah Harum Istrinya
Merasa kehilangan sebagian jiwa yang telah berjanji mengikat hubungan melalui pernikahan sejak 2021 silam. Keduanya telah dikarunia dua anak laki-laki yang saat ini sedang giat bekerja untuk membangun keluarga kecilnya.
“Istri saya itu baik banget, pekerja keras. Dia tidak pernah mau berhenti kerja,” kenang Radit sambil menyeka air matanya.
Meski kesedihan masih menyelimuti dirinya, namun Radit hingga kini berupaya untuk tegar dan menerima takdir ini. Dengan rasa penyesalan dan bersalah yang tidak mampu menjaga istrinya.
“Kalau marah ya manusiawi. Tapi menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apa-apa. Semua sudah digariskan. Saya merasa belum bisa menjaga istri saya dengan baik,” tuturnya.
Adapun untuk data korban terbaru yang dihimpun pukul 11.00 WIB, Rabu (29/4/2026), dilaporkan ada 16 korban meninggal dunia. Lalu, 90 orang luka, dengan rincian 44 orang diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan dan 46 orang lainnya masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit.
Berdasarkan informasi dihimpun kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL rute Jakarta- Cikarang terjadi sesaat taksi listrik hijau' mogok hingga tertemper KRL lain di perlintasan rel Cikarang-Jakarta.
Saat itu KRL dari rute Jakarta-Cikarang sedang di peron Stasiun Bekasi Timur menunggu proses evakuasi taksi listrik hijau' yang mogok. Tiba-tiba dari arah belakang, melaju KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong belakang KRL.
Dampak dari kecelakaan itu, total 16 penumpang yang seluruhnya perempuan di gerbong khusus meninggal dunia. Sementara 90 korban luka lainnya telah berhasil dievakuasi untuk mendapat perawatan medis di rumah sakit.
Karena seluruh korban telah selesai dievakuasi, Operasi SAR Gabungan pun dinyatakan selesai. Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek pun telah berhasil dilepas dari gerbong KRL untuk dipindahkan dari stasiun Bekasi Timur.

HUKUM | 1 hari yang lalu
BUDAYA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu




