Arab Saudi Bantah Izinkan Wilayah Udaranya Dipakai Militer AS

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:00 WIB
Ilustrasi militer AS (Foto/Pixabay)
Ilustrasi militer AS (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Arab Saudi membantah telah mengizinkan wilayah udaranya untuk operasi militer ofensif di tengah ketegangan regional terkait perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Stasiun TV Al Arabiya, yang mengutip sumber melaporkan Riyadh berupaya meredakan ketegangan dan mendukung upaya mediasi Pakistan untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.

"Kerajaan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk mendukung operasi militer ofensif. Ada pihak-pihak yang mencoba memberikan gambaran yang menyesatkan tentang posisi Arab Saudi karena alasan yang mencurigakan," kata sumber tersebut.

Sanggahan tersebut muncul setelah The Wall Street Journal melaporkan pada Kamis (7/5) bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan penggunaan pangkalan dan wilayah udara mereka oleh militer Amerika, yang diberlakukan setelah peluncuran operasi Amerika untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip pejabat Amerika dan Saudi, laporan tersebut mengatakan pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dengan dukungan angkatan laut dan angkatan udara AS setelah misi tersebut dihentikan sementara awal pekan ini.

Ketegangan regional telah meningkat tajam sejak Amerika dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari hingga memicu pembalasan Iran terhadap Israel dan sekutu Amerika di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

Amerika kemudian mengumumkan gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April dan dilanjutkan negosiasi dengan mediasi Pakistan, meskipun negosiasi itu gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Trump lalu mengumumkan, perpanjangan gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu, dilanjutkan dengan blokade angkatan laut dengan menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz tersebut sejak 13 April.

Sumber: Antara
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: