Heboh Hantavirus di Kapal Pesiar, Simak Gejala hingga Penyebaran Hantavirus!
BeritaNasional.com - Virus Hantavirus mendadak jadi perbincangan global, usai ditemukan kasus hantavirus di sebuah kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudera Atlantik pada 2 Mei 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengonfirmasi bahwa hantavirus tersebut adalah jenis virus Andes atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyebabkan kematian. Bahkan, hantavirus ini juga sering disebut dengan silent threat.
Lantas, apa itu hantavirus, bagaimana penyebaran, cara penularan dan gejalanya? Simak rangkuman seputar hantavirus yang dirangkum BeritaNasional.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus dari keluarga Hantaviridae yang ditularkan oleh hewan pengerat (rodensia) kepada manusia. Virus ini bersifat zoonosis dan dapat menyebabkan penyakit serius yang menyerang paru-paru atau ginjal.
Nama Hantavirus ini diambil dari nama Sungai Hantan di Korea Selatan "Hanta", karena virus ini pertama kali diidentifikasi pada awal 1950-an selama Perang Korea, ketika ribuan tentara PBB jatuh sakit akibat demam berdarah yang menyerang ginjal (Korean Hemorrhagic Fever). Dan penyebabnya baru berhasil diisolasi pada tahun 1978, yang diketahui berasal dari tikus sawah (Apodemus agrarius).
Lalu pada 1993, hantavirus berevolusi dan jenis baru ditemukan di Amerika Serikat, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), di mana virus jenis baru ini menyebabkan gangguan pernapasan berat, bahkan menimbulkan kematian.
Sebaran Kasus Hantavirus
Sebelum temuan di MV Hondius, kasus hantavirus tertinggi ditemukan di China, Rusia dan Korea, yang umumnya diidentifikasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Kasus tertinggi berada di China, Rusia, dan Korea. Sementara kasus jenis HPS lebih banyak ditemukan di Amerika Serikat.
Lalu pada 2 Mei 2026, kasus hantavirus jenis Andes atau HPS ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik, menyebabkan kematian dan memicu peringatan global.
Menurut update Disease Outbreak News WHO pada Sabtu (9/5/2026), penyakit pernapasan parah pertama kali dilaporkan di kapal pesiar tersebut pada 2 Mei 2026. Saat itu, terdapat 147 penumpang dan awak kapal di atas kapal, sementara 34 lainnya telah turun lebih dahulu. Seluruh titik kontak WHO di negara-negara terkait telah diberi informasi dan mendukung pelacakan kontak internasional.
Hingga Jumat (8/5/2026), delapan kasus bergejala telah dilaporkan, termasuk tiga kematian. Enam kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium sebagai infeksi hantavirus Andes (ANDV). WHO mendesak negara-negara yang terlibat untuk terus melanjutkan koordinasi kesehatan masyarakat, termasuk pelacakan kontak, penanganan kasus, pencegahan penularan, serta komunikasi yang transparan.
Indonesia sendiri bukanlah wilayah yang bebas hantavirus. Berdasarkan data tahun 2025-2026 menunjukkan adanya temuan kasus suspek dan terkonfirmasi di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, DIY, NTT, dan Sulawesi Utara. Dan virus yang sering ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus rumah. Hantavirus di Indonesia juga tidak hanya ditemukan di pedesaan, tapi juga ditemukan di kota-kota besar.
Cara Penularan Hantavirus
Hantavirus ini dapat menyebar melalui beberapa cara, antara lain:
1. Inhalasi (Aerosol)
Hantavirus bisa tersebar melalui udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi (misalnya saat menyapu gudang yang kotor).
2. Kontak Langsung
Hantavirus juga bisa tersebar melalui kontak langsung, seperti saat menyentuh kotoran tikus atau permukaan yang terkontaminasi, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
3. Gigitan
Meskipun jarang, gigitan tikus yang terinfeksi juga dapat menularkan virus ini kepada manusia.
4. Antar Manusia
Hantavirus juga bisa menyebar antarmanusia meskipun sangat jarang terjadi. Namun, pada jenis Andes virus ini diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia melalui kontak erat.
Gejala Hantavirus
Gejala orang yang terpapar hantavirus biasanya baru muncul mulai 1-8 minggu setelah paparan dengan beberapa fase sebagai berikut:
- Fase Awal (Mirip Flu): Terjadi demam, nyeri otot hebat (terutama pada paha, punggung, dan bahu), sakit kepala, lemas, dan terkadang gangguan pencernaan (mual, muntah, diare).
- Fase Lanjut:
- Pada HPS (Paru-paru): Terjadi sesak napas akut, batuk parah, dan penumpukan cairan di paru-paru. Tingkat kematian mencapai 40-50 persen.
- Pada HFRS (Ginjal): Tekanan darah rendah, syok, hingga gagal ginjal akut.
Penanganan dan Pengobatan Hantavirus
Meskipun virus ini telah ditemukan sejak 1950-an, belum ditemukan obat antivirus khusus atau vaksin yang disetujui secara luas untuk hantavirus. Namun, ada beberapa penanganan yang dilakukan saat terpapar hantavirus, antara lain:
- Perawatan Suportif: Pasien harus segera dirawat di rumah sakit. Penanganan fokus pada bantuan pernapasan (oksigen atau intubasi), pengaturan cairan tubuh, dan pemantauan fungsi jantung.
- Deteksi Dini: Semakin cepat dideteksi dan diberikan bantuan pernapasan di ICU, peluang bertahan hidup semakin besar.
Namun, yang paling penting dari itu semua adalah langkah pencegahan hantavirus. Menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan masker serta disinfektan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus menjadi hal yang wajib dilakukan. Serta selalu menerapkan pola hidup bersih dan menghindari makan makanan atau minum dari tempat yang kebersihannya tidak terjaga.
Sekian informasi tentang penjelasan hantavirus, sebaran kasus, gejala hingga penanganan hantavirus. Selalu membiasakan diri untuk hidup bersih dan sehat agar tertular dari berbagai virus dan penyakit. 
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 22 jam yang lalu




