Menjelang Armuzna, Jemaah Lansia Diminta Tak Memaksakan Ibadah Sunnah

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 14 Mei 2026 | 11:00 WIB
Jemaah Haji asal Indonesia. (Foto/Kemenhaj)
Jemaah Haji asal Indonesia. (Foto/Kemenhaj)

BeritaNasional.com - Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), para Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengingatkan jemaah haji Indonesia agar menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah secara berlebihan.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul tingginya aktivitas ibadah jemaah di Madinah dan Makkah, mulai dari mengejar shalat Arbain di Masjid Nabawi hingga berulang kali melaksanakan umrah sunnah di Masjidil Haram.

Musyrif Diny, Muhammad Cholil Nafis, menegaskan bahwa menjaga stamina menjelang Armuzna jauh lebih penting agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah wajib dengan baik.

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji. Yang paling utama adalah kesiapan untuk menjalani Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Kiai Cholil dilansir dari laman Kemenhaj, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, jemaah yang telah memiliki niat melaksanakan ibadah sunnah tetap memperoleh pahala meski tidak dapat menunaikannya karena faktor kesehatan atau kondisi fisik.

“Kalau sudah punya niat baik untuk shalat di masjid lalu terhalang karena kondisi kesehatan atau demi menjaga stamina, insyaAllah tetap mendapatkan pahala,” katanya.

Kiai Cholil menjelaskan, jemaah yang tinggal di sekitar kawasan Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram juga tidak perlu merasa khawatir apabila harus beribadah di hotel atau pemondokan demi menjaga kesehatan.

Ia menilai sebagian jemaah terlalu bersemangat menjalankan ibadah sunnah hingga mengabaikan kondisi tubuh, padahal cuaca panas dan kepadatan menjelang Armuzna membutuhkan kesiapan fisik yang baik.

Hal senada disampaikan Musyrif Diny lainnya, Asrorun Ni’am Sholeh. Ia mengingatkan agar jemaah tidak terjebak semangat “aji mumpung” selama berada di Tanah Suci.

Menurutnya, ibadah sunnah seperti umrah berkali-kali maupun thawaf tambahan sebaiknya dilakukan secara proporsional dan disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.

Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar ibadah, terlebih rangkaian puncak haji membutuhkan mobilitas tinggi di tengah suhu panas Arab Saudi.

Sementara itu, Abdullah Kafabihi Mahrus menyebut inti utama ibadah haji adalah wukuf di Arafah sehingga seluruh persiapan jemaah sebaiknya difokuskan untuk menghadapi momentum tersebut.

“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.

Ia menambahkan, jemaah perlu mengatur energi dan aktivitas sejak awal agar tetap kuat mengikuti seluruh rangkaian ibadah wajib saat puncak haji.

Para Musyrif Diny berharap jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah haji tahun ini secara seimbang, tetap semangat beribadah tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan sehingga mampu mengikuti seluruh rangkaian Armuzna dengan lancar dan khusyuk.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: