Delegasi Pemprov DKI Tinjau Pengolahan Sampah Copenhill di Denmark, Pelajari Sistem Waste-to-Energy

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 19 Mei 2026 | 06:11 WIB
Waste to Energy Copenhill, Denmark. (Beritanasional/Fobuma)
Waste to Energy Copenhill, Denmark. (Beritanasional/Fobuma)

BeritaNasional.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meninjau fasilitas pengolahan sampah Copenhill di Kopenhagen, Denmark pada Minggu (17/5/2024) pagi waktu setempat. Kunjungan tersebut untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah modern berbasis teknologi waste-to-energy yang terintegrasi dan ramah lingkungan.

Di sana, sampah yang telah dipilah diolah melalui teknologi waste-to-energy. Sampah dibakar pada suhu hingga 1.000 derajat Celsius untuk menghasilkan uap panas yang digunakan menggerakkan turbin pembangkit listrik. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan pemanas sekitar 100.000 hingga 150.000 rumah tangga di Kota Kopenhagen.

Perwakilan Amager Resource Center selaku pengelola Copen Hill Flemming G. Nielsen mengatakan, keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kedisiplinan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

“Kami menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga dengan 10 kategori. Sampah makanan diproses di fasilitas berbeda, sedangkan sampah rumah tangga dipisahkan antara kaca, plastik, serta logam sebelum diolah menjadi energi,” kata Nielsen, dikutip dari keterangan resminya, Selasa (19/5/2026).

Fasilitas yang mulai beroperasi pada 2017 itu mampu mengolah sekitar 440.000 hingga 610.000 ton sampah setiap tahun. Dari proses tersebut, Copen Hill menghasilkan sekitar 283 GWh listrik dan 1.383 GWh energi panas. Limbah makanan yang diolah di fasilitas terpisah juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas.

Sementara itu, Rano mengatakan, pengelolaan sampah di Copen Hill menunjukkan fasilitas lingkungan dapat dibangun secara modern dan terbuka bagi publik.

“Teknologinya sangat maju. Tidak hanya mengolah sampah menjadi energi, sisa pembakarannya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran aspal," kata Rano.

"Yang menarik, kawasan ini dirancang ramah bagi masyarakat, ada area edukasi, kafe, hingga arena ski rumput. Jadi fasilitas lingkungan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang tertutup dan kumuh,” tambah dia.

Menurut Rano, pengalaman Kopenhagen menjadi inspirasi bagi Jakarta dalam mempercepat pengurangan dan pengolahan sampah perkotaan secara berkelanjutan.

“Pemilahan sampah di hulu adalah kunci. Teknologi bisa dibangun, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh partisipasi warga. Dengan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar untuk mengurangi persoalan sampah kota,” tandasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: