Selat Hormuz dan Program Nuklir Jadi Hambatan Utama Negosiasi AS-Iran

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 22 Mei 2026 | 15:43 WIB
Ilustrasi gencatan senjata Amerika Serikat-Iran. (BeritaNasional/Candra)
Ilustrasi gencatan senjata Amerika Serikat-Iran. (BeritaNasional/Candra)

BeritaNasional.com - Upaya Pakistan memediasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi banyak hambatan meski sejumlah kemajuan dikabarkan telah tercapai.

Situasi negosiasi disebut masih sangat dinamis. Di satu sisi, muncul laporan mengenai perkembangan positif. Namun di sisi lain, perbedaan sikap kedua negara disebut masih cukup tajam.

Pemerintah Iran saat ini masih mempelajari proposal dari Amerika Serikat dan akan menyampaikan respons melalui mediator Pakistan.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi diketahui telah berada di Teheran selama tiga hari untuk menjembatani negosiasi kedua pihak.

Sementara itu, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir yang sebelumnya dijadwalkan datang ke Teheran belum juga tiba. Sejumlah pihak menilai kunjungan tersebut baru akan dilakukan jika pembicaraan menunjukkan kemajuan signifikan.

Dalam negosiasi ini, Iran meminta penghentian total perang di seluruh front sebagai syarat awal. Sebaliknya, Amerika Serikat menginginkan proses penghentian dilakukan secara bertahap dan bergantung pada perkembangan pembicaraan.

Perbedaan juga terjadi terkait Selat Hormuz. Iran ingin memperluas kedaulatannya atas jalur strategis tersebut, namun langkah itu ditolak Amerika Serikat dan negara-negara kawasan karena lebih dari 30 persen distribusi energi dunia melewati selat tersebut.

Selain itu, Iran meminta seluruh aset negaranya yang dibekukan dikembalikan sepenuhnya. Di sisi lain, Amerika Serikat ingin tetap menahan sebagian aset dan meminta Iran menutup seluruh fasilitas nuklirnya, kecuali yang berada di Teheran, serta menghentikan pengayaan uranium.

Washington juga meminta Iran mengirim keluar lebih dari 400 kilogram uranium yang telah diperkaya. Namun permintaan itu hingga kini masih ditolak Teheran.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: