MoU Damai Iran-AS Masih Terganjal Klausul Aset yang Dibekukan
BeritaNasional.com - Upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang masih membentur tembok tebal.
Washington dilaporkan masih enggan menerima sejumlah klausul dalam draf nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang tengah digodok kedua pihak.
Berdasarkan laporan dari kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Minggu (24/5/2026), salah satu poin utama yang menjadi batu sandungan adalah klausul mengenai pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh AS.
Meski kedua pihak telah menggelar rangkaian pembicaraan intensif, AS dinilai masih menghalangi kesepakatan pada poin-poin sensitif tersebut.
Kondisi ini membuat nasib MoU perdamaian berada di ujung tanduk dan terancam batal. Di sisi lain, pihak Teheran menegaskan sikapnya untuk tidak akan berkompromi atau mundur selangkah pun dari garis merah demi melindungi hak-hak rakyat Iran.
Sebelumnya pada Sabtu (23/5/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sempat menyampaikan optimisme lewat stasiun televisi pemerintah, IRIB.
Ia membenarkan Teheran dan Washington sedang merumuskan draf kesepakatan untuk menyudahi konflik.
"Fokus utama kami saat ini adalah mengakhiri perang yang dipaksakan ini. Target awalnya adalah menyepakati MoU yang terdiri dari 14 pasal," ujar Baghaei.
Baghaei menambahkan kedua negara menargetkan kesepakatan final dapat tercapai dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari ke depan.
Beberapa poin inti yang tertuang dalam draf tersebut meliputi penghentian total serangan maritim atau blokade laut oleh militer AS, serta pembebasan aset-aset finansial Iran yang ditahan.
Hubungan kedua negara sendiri sempat pecah menjadi pertempuran terbuka selama 40 hari yang dipicu oleh serangan militer AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari. Gencatan senjata tripartit antara Iran, AS, dan Israel baru disepakati pada 8 April.
Pascagencatan senjata, delegasi Iran dan AS sebenarnya langsung menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April 2026.
Namun, pertemuan tersebut berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun sebelum akhirnya berlanjut pada pembicaraan pekan ini.
Sumber: Xinhua News
HUKUM | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







