Krisis Pangan Global Mengintai, Indonesia Bersiap Jadi Pemasok Dunia

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 25 Mei 2026 | 11:00 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto/Badan Komunikasi Pemerintah).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto/Badan Komunikasi Pemerintah).

BeritaNasional.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengingatkan risiko krisis pangan global. Ketegangan geopolitik yang terus memanas dan potensi tersumbatnya rantai pasok internasional menjadi pemicu utamanya. 

Namun, di tengah ancaman tersebut, Indonesia tampil percaya diri dengan fondasi ketahanan pangan yang kian kokoh, bahkan bersiap mengambil peran sebagai salah satu pemasok pangan dunia.

Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengungkapkan ancaman nyata seperti potensi penutupan Selat Hormuz bukan lagi sekadar gangguan logistik biasa. 

Hal itu berpotensi memicu guncangan sistemik pada sektor pertanian dan pangan di tingkat global. Karena itu, ia mendesak setiap negara untuk segera membenahi sektor domestik mereka.

“Saatnya telah tiba untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas pangan negara-negara, bagaimana meningkatkan ketahanan mereka terhadap hambatan ini,” ujar Maximo Torero dalam sebuah siniar (podcast) FAO yang dikutip dari laman resmi Kementan pada Minggu (24/5/2026).

Kementan Pastikan Pasokan Dalam Negeri Aman Mandiri

Merespons peringatan global tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah telah bergerak cepat. 

Langkah-langkah taktis mulai dari pengalokasikan fokus pada peningkatan produksi, penebalan cadangan pangan, hingga penjagaan stabilitas pasokan pasar domestik sudah dieksekusi sejak dini.

“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insya Allah tetap aman,” tegas Mentan Amran melalui keterangan persnya pada Sabtu (24/5/2026).

Optimisme Mentan Amran bukan tanpa alasan. Berdasarkan data riil di lapangan, grafik produksi pangan nasional saat ini berada jauh di atas kurva konsumsi masyarakat.

“Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, masyarakat tidak perlu risau,” katanya.

Berkaca dari pengalaman sejarah, ia menambahkan kekuatan pangan adalah penopang utama stabilitas ekonomi sebuah negara. 

Jika benteng domestik sudah kokoh, Indonesia dinilai sudah waktunya untuk melebarkan sayap ke panggung internasional.

“Kalau kebutuhan dalam negeri aman dan stok kuat, Indonesia harus berani mengambil peran lebih besar. Kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga harus siap membantu negara sahabat yang membutuhkan,” kata Amran.

Rekor Cadangan Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

Senada dengan Mentan, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memaparkan modal kuat yang dimiliki Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI terkait penyerapan gabah. 

Hingga pertengahan Mei, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog menembus angka sekitar 5,37 juta ton, angka tertinggi dalam sejarah Indonesia modern.

“Stok kita melimpah, sudah 5,3 juta ton. Potensi produksi dan serapan ke depan juga masih sangat besar,” jelas Wamentan Sudaryono.

Melimpahnya stok ini membuka keran bagi Indonesia untuk memperluas kerja sama ekspor secara terukur.

Langkah konkret sudah dimulai, di antaranya pengiriman 2.280 ton beras premium senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi untuk konsumsi jemaah haji, serta pengiriman bantuan kemanusiaan 10 ribu ton beras ke Palestina.

“Kita sudah kirim 10 ribu ton beras ke Palestina, ke Arab Saudi sekitar 2.000 ton. Ke depan, kita berharap bukan hanya jemaah Indonesia saat haji dan umrah yang mengonsumsi beras RI, tetapi juga jemaah negara lain,” tutur Sudaryono.

Kendati pasar ekspor mulai bergairah, Wamentan mengingatkan bahwa pemenuhan isi piring masyarakat di dalam negeri tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

“Semua ekspor dihitung cermat. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri justru terganggu,” tegasnya.

Posisi ketahanan pangan Indonesia saat ini menunjukkan metamorfosis luar biasa jika dibandingkan dengan masa krisis moneter 1997–1998. 

Pada era tersebut, stok beras nasional kritis di angka 893 ribu ton, memaksa pemerintah melakukan impor besar-besaran saat nilai tukar Rupiah sedang terpuruk.

Kini, kondisinya berbalik total. Sepanjang tahun lalu, produksi beras nasional menembus 34,69 juta ton, menghasilkan surplus di atas 3,5 juta ton dari total kebutuhan nasional yang berada di kisaran 31 juta ton. 

Dampaknya, Indonesia sukses menutup tahun tanpa mendatangkan impor beras medium sama sekali.

Keberhasilan ini kian diperkuat oleh proyeksi Neraca Pangan Nasional, 8 dari 11 komoditas strategis, termasuk beras, jagung, aneka cabai, bawang merah, daging dan telur ayam, hingga gula konsumsi dipastikan aman tanpa ketergantungan impor. Bahkan untuk komoditas jagung pakan, kebijakan stop impor sudah berhasil dipertahankan.

Sentimen positif ini juga didorong oleh kebijakan domestik yang berpihak pada petani, seperti penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen melalui efisiensi industri, serta lompatan di sektor energi lewat mandatori Biodiesel B50 yang siap bergulir untuk menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun. 

Dengan modal integrasi hulu ke hilir ini, Indonesia bersiap menjadi pilar stabilitas pangan di tengah ketidakpastian dunia.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: