Terlibat Konflik dengan Ahmad Bahar, Hercules Ungkap Kronologi Versinya

Oleh: Bachtiarudin Alam
Senin, 25 Mei 2026 | 11:15 WIB
Ketua Umum (Ketum) GRIB Jaya, Rosario de Marshal alias Hercules. (Foto/instagram Grib Jaya).
Ketua Umum (Ketum) GRIB Jaya, Rosario de Marshal alias Hercules. (Foto/instagram Grib Jaya).

BeritaNasional.com - Ketua Umum (Ketum) GRIB Jaya, Rosario de Marshal alias Hercules akhirnya buka suara terkait polemik dengan penulis Ahmad Bahar. Dia pun menjelaskan kronologi versinya yang lebih dulu mendapat teror.

Khususnya teror diterima istri Hercules dari Ahmad Bahar melalui pesan singkat WhatsApp dengan kata-kata kasar. Hal itu lah yang memancing pihaknya ingin menemui Ahmad Bahar untuk meminta klarifikasi.

“Saya perlu tegaskan bahwa yang memulai semua ini adalah saudara Ahmad Bahar. Ia meneror istri saya melalui pesan WhatsApp di ponsel istri saya,” kata Hercules saat jumpa pers dikutip Senin (25/6/2026).

Bahkan, Hercules menyebut dirinya telah memiliki bukti percakapan dan video yang memperlihatkan ancaman dan teror dari Ahmad Bahar.

“Ada bukti percakapannya, bahkan ada videonya yang jelas menunjukkan wajahnya saat ia berada di Stasiun Pegaden. Ia mencari-cari saya, mengancam akan mendatangi rumah saya, dan mengirim pesan kepada istri saya dengan kata-kata kasar," tuturnya.

Polemik ini, lanjut Hercules, diduga karena pernyataannya saat acara ulang tahun GRIB Jaya beberapa waktu lalu yang menanggapi pernyataan Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais.

“Ternyata, buntut dari masalah ini adalah pernyataan saya saat acara ulang tahun GRIB mengenai Pak Amien Rais. Namun perlu diingat, saya tidak mengancam atau menjelek-jelekkan Pak Amien Rais. Saya hanya sebatas mengingatkan,” tuturnya.

“Beliau adalah seorang negarawan, tokoh panutan Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua MPR. Saya hanya menyarankan agar jika berbicara atau mengkritik, jangan sampai mendiskriminasi atau memvonis orang besar dengan tuduhan yang tidak berdasar. Pak Amien adalah milik kita semua, milik rakyat Indonesia,” tambah dia.

Hercules pun menyebut dari kronologi yang telah dijabarkan, klaim soal pengancaman yang diberikan Ahmad Bahar seolah-olah ingin membalikkan keadaan dengan menggiring opini dirinya menjadi korban.

“Istri saya trauma, bahkan anak-anak saya juga terkena dampaknya. Namun sekarang, ia memutarbalikkan fakta seolah-olah dia adalah korban dan kami adalah pelakunya. Ahmad Bahar ini sangat licik,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Hercules juga menjelaskan alasan pihaknya mendatangi rumah Ahmad Bahar di kawasan Depok hingga membawa putri Ahmad Bahar ke kantor DPP GRIB Jaya. Dia pun menyebut semua tindakannya turut didampingi Ketua RW dan Babinsa setempat.

“Saya membawa anak itu ke sini untuk klarifikasi baik-baik. Saya tanya kepadanya, 'Kenapa bapakmu mencari-cari saya dan menghina saya?' Saya juga bertanya bagaimana mereka bisa mendapatkan nomor ponsel istri saya, karena hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya,” kata Hercules.

Hercules Dilaporkan

Sebelumnya, Polda Metro Jaya mulai menyelidiki kasus dugaan perampasan kemerdekaan lewat pemaksaan yang dilaporkan Ilma Sani Fitriana, anak penulis Ahmad Bahar terhadap Ketua Umum GRIB Hercules Rosario Marshal.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menjelaskan proses penyelidikan ini dilakukan sebagai bagian dari mencari apakah tindakan yang dilaporkan memiliki unsur pidana atau tidak.

“Polda Metro Jaya, di mana pun kepolisian tidak boleh menolak laporan masyarakat,” ujar Budi Hermanto kepada wartawan, dikutip Minggu (24/5/2026).

Karena telah masuk penyelidikan, dalam beberapa hari ke depan petugas akan memanggil pelapor untuk dimintai keterangan, menganalisa barang bukti, serta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Apabila dalam proses penyelidikan ini dilakukan gelar perkara, maka ada pengalihan status dari lidik menjadi sidik,” kata dia.

Sementara, Budi menjelaskan, perkara dilaporkan terkait dugaan merampas kemerdekaan seseorang. Berawal dari korban yang sempat didatangi sejumlah orang yang menanyakan keberadaan orang tuanya pada 17 Mei 2026. 

Namun karena Ahmad Bahar yang dicari oleh kelompok Ormas Grib Jaya tidak ada, pelapor Ilma Sani Fitriana malah dibawa ke suatu tempat untuk diinterogasi selama beberapa jam sebelum dipulangkan.

“Yang dilaporkan adalah merampas kemerdekaan seseorang, di mana korban didatangi oleh beberapa orang menanyakan keberadaan orang tuanya tetapi tidak ada, tetapi pelapor tersebut dibawa ke salah satu tempat dan diinterogasi beberapa jam baru dipulangkan,” ujar Budi.

Meski begitu, Budi mengaku belum bisa menginformasikan lebih lanjut terkait laporan tersebut. Sebab, saat ini laporan masih di SPKT untuk nantinya diserahkan ke direktorat yang sesuai dalam menangani kasus tersebut.

“Laporannya baru diterima,” tuturnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: