Menhaj Sebut Haji 2026 Jadi Tonggak Baru Pelayanan Jemaah Indonesia

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 28 Mei 2026 | 09:41 WIB
Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf. (Foto/Kemenhaj)
Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf. (Foto/Kemenhaj)

BeritaNasional.com - Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan bahwa wukuf di Arafah bukan hanya menjadi puncak ibadah haji, tetapi juga momentum penting dalam memperkuat pelayanan haji Indonesia yang lebih fokus, inklusif, dan berkeadaban.

Pernyataan tersebut disampaikan Irfan Yusuf saat memberikan sambutan pada pelaksanaan Wukuf di Arafah, 9 Dzulhijjah 1447 H/26 Mei 2026 M. Kegiatan itu dihadiri jemaah haji Indonesia, jajaran Amirulhaj, Tim Pengawas DPR RI, perwakilan Pemerintah Indonesia di Arab Saudi, serta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

“Hari ini kita berada di Arafah. Di tempat yang mulia ini, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama. Semua menundukkan diri di hadapan Allah SWT,” ujar Menhaj dikutip, Kamis (28/5/2026).

Menurut Irfan Yusuf, penyelenggaraan haji tahun ini memiliki arti bersejarah karena untuk pertama kalinya dilaksanakan dalam kerangka Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Ia menegaskan seluruh layanan diarahkan agar negara hadir lebih dekat, sigap, dan terukur dalam melayani jemaah.

“Pelayanan haji tahun ini harus menjadi bukti bahwa negara hadir lebih fokus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada jemaah,” tegasnya.

Menhaj menjelaskan seluruh proses keberangkatan jemaah haji Indonesia dari Tanah Air telah rampung. Sebanyak 527 kelompok terbang dengan total 202.551 jemaah dan 2.098 petugas telah tiba di Makkah. Selain itu, sebanyak 16.596 jemaah haji khusus juga sudah berada di Arab Saudi.

Ia mengatakan, fokus pelayanan kini diarahkan pada fase Armuzna yang mencakup kesiapan tenda, konsumsi, transportasi, kesehatan, pelindungan, hingga penugasan petugas di lapangan. Menurutnya, pemerintah juga menekankan konsep Tri Sukses Haji yang meliputi sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses keadaban dan peradaban.

Dalam kesempatan itu, Menhaj menegaskan keselamatan jiwa dan keabsahan ibadah menjadi bagian penting dalam kebijakan pelayanan haji. Pemerintah menyiapkan skema murur bagi jemaah lansia, risiko tinggi, komorbid, disabilitas, dan pendamping agar perjalanan dari Arafah menuju Mina berlangsung lebih aman dan tertib.

“Setiap jemaah harus merasa dilindungi. Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan. Setiap petugas harus hadir dengan empati, sigap, dan memahami kebutuhan khusus jemaah,” ujar Menhaj.

Untuk mendukung kenyamanan jemaah selama fase Armuzna, Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan 15 porsi makanan siap santap bercita rasa Nusantara. Distribusi konsumsi dilakukan lebih awal sejak 6 Dzulhijjah agar jemaah dapat lebih fokus menjalankan ibadah.

Selain itu, layanan haji tahun ini diperkuat melalui sistem digitalisasi pengawasan dan pelaporan berbasis Command Center, SIKABAH, dan Kawal Haji. Sistem tersebut memungkinkan respons petugas menjadi lebih cepat dan terukur.

Dalam pengelolaan dam, Kemenhaj mencatat sebanyak 145.341 jemaah telah melakukan pembayaran dam. Sebanyak 102.364 pembayaran dilakukan melalui Adahi di Arab Saudi, sementara 38.992 lainnya melalui mekanisme di Indonesia. Sebagian besar daging dam jemaah Indonesia juga diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi.

Menutup sambutannya, Menhaj mengajak seluruh jemaah memanfaatkan momen wukuf untuk memperbanyak doa, zikir, dan introspeksi diri, sekaligus menjaga kesehatan dan disiplin mengikuti arahan petugas.

“Arafah adalah ruang muhasabah. Doakan keluarga, para pemimpin bangsa, keselamatan Indonesia, dan semoga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur,” tutup Menhaj.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: