Rupiah Tembus Rp18.149 per Dolar AS, Tekanan Masih Berlanjut
BeritaNasional.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Selasa (9/6/2026), kembali mengalami tekanan tajam di pasar perdagangan pagi pukul 8.00.
Rupiah sempat menembus level psikologis baru di kisaran Rp18.149 per dolar AS, sebelum bergerak fluktuatif di awal sesi.
Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (8/6/2026) Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level terlemah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang penutupan sesi Asia.
Berdasarkan data pasar, pasangan USD/IDR tercatat menguat 171 poin atau 0,95 persen ke posisi Rp18.177 dari sebelumnya Rp18.006. Pelemahan ini terjadi setelah rilis data cadangan devisa Indonesia yang menunjukkan penurunan.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.984 hingga Rp18.197. Level tertinggi di rentang tersebut sekaligus menjadi rekor pelemahan terbaru rupiah terhadap dolar AS.
Dalam catatan lebih panjang, rupiah tercatat telah melemah sekitar 11,66 persen terhadap dolar AS sejak awal tahun. Kondisi ini menunjukkan tekanan masih dominan dan pemulihan belum benar-benar terbentuk.
Pergerakan cepat ini menunjukkan tekanan yang masih kuat terhadap nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar AS, seiring sentimen global yang belum stabil.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menilai, pelemahan nilai tukar Rupiah dipengaruhi banyak faktor. Maka itu butuh kerjasama yang baik dari otoritas moneter dan fiskal untuk menghadapi masalah ini.
Komunikasi intens antarotoritas moneter dan fiskal terus dilakukan. Tetapi, menurut Prasetyo, tidak serta-merta hasilnya akan langsung terlihat.
"Kan bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan kemudian kita tidak ada yang komunikasi kan tidak begitu juga. Ini kan bagian dari upaya," ujar Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
"Naiknya nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi satu faktor, variabelnya juga banyak gitu," tegasnya.
Menurut Prasetyo, variabel yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah adalah dari kemandirian ekonomi, sampai masalah ketergantungan impor.
"Tadi saya sampaikan mempengaruhi juga, kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi mata uang kita, masih ada ketergantungan impor itu juga mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri," jelasnya.
Untuk itu, dibutuhkan kerjasama otoritas moneter dan fiskal untuk bersama-sama bisa menghadapi masalah pelemahan Rupiah. Semua sektor di bidang perekonomian juga perlu menjalankan tugasnya dengan baik dan memperbaiki diri.
"Maka yang dibutuhkan sekarang kerjasama, apalagi otoritas yang berkaitan dengan masalah ekonomi baik moneter dan fiskal," terangnya
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






