Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen Triwulan I, Airlangga Ungkap Strategi Hilirisasi dan Kurangi Risiko Volatilitas Rupiah

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 11 Juni 2026 | 23:00 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto/BPMI)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto/BPMI)

BeritaNasional.com - Di tengah ketidakpastian situasi ekonomi global, perekonomian Indonesia terbukti masih menunjukkan ketahanan yang solid. 

Pada triwulan I tahun 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sukses mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year-on-year/yoy).

Suntikan energi pertumbuhan ini ditopang oleh tingginya angka permintaan domestik, percepatan realisasi belanja pemerintah, tren positif investasi, serta kebangkitan sektor manufaktur.

Indikator makroekonomi dalam negeri juga berada dalam koridor aman. Inflasi terjaga stabil di angka 3,08 persen (yoy), ditambah catatan surplus neraca perdagangan yang impresif selama 72 bulan berturut-turut. 

Selain itu, posisi cadangan devisa nasional berdiri kokoh di angka USD144,9 miliar. Dampak positifnya, tingkat pengangguran berhasil ditekan ke angka 4,68 persen berkat terciptanya 1,9 juta lapangan kerja baru dalam setahun terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan arah kebijakan strategis yang diambil pemerintah untuk menjaga tren positif ini saat hadir secara virtual dalam peluncuran laporan World Bank Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026.

“Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat,” tutur Menko Airlangga yang dikutip dari siaran persnya pada Kamis (11/6/2026).

Realisasi Investasi Melesat dan Strategi Stabilisasi Rupiah

Sektor investasi menjadi salah satu motor penggerak utama. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi menembus angka Rp498,79 triliun, atau tumbuh 7,22 persen (yoy). Sektor ini juga sukses menyerap 706.569 tenaga kerja baru (naik 18,93 persen yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi masif di sektor hilirisasi serta masuknya korporasi hyperscaler global yang memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat data center regional.

Untuk membentengi sektor eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari volatilitas, pemerintah menahan 100 persen devisa hasil ekspor (DHE) sektor nonmigas di dalam negeri selama satu tahun penuh.

Langkah ini diperkuat oleh Bank Indonesia melalui perluasan kerja sama Local Currency Transaction (LCT).

Sinergi erat juga terus dijalin bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi menjaga sentimen positif pasar, termasuk menyelesaikan penyesuaian indeks global seperti MSCI dan FTSE.

Target Ekonomi di Era Presiden Prabowo Subianto

Menatap masa depan, pemerintah membidik target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen untuk keseluruhan tahun 2026.

Fokus akan diarahkan pada sektor pertanian, manufaktur, digital, energi, serta deretan program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto.

Sementara itu, untuk 2027, target pertumbuhan dipatok lebih tinggi pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen.

Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR pada 20 Mei 2026 telah menegaskan komitmennya untuk membatasi defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap PDB, sekaligus memfungsikan APBN sebagai alat transformasi ekonomi.

“Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Penguatan Iklim Investasi. Langkah-langkah awal yang cepat membuahkan hasil meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standardisasi proses perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis,” ungkap Airlangga.

Perluas Akses Pasar ke Uni Eropa hingga Inggris

Di kancah internasional, Indonesia terus tancap gas memperluas jangkauan dagang lewat berbagai perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA). Beberapa di antaranya adalah Indonesia-Uni Eropa CEPA yang membuka akses ke pasar setara 14,7 persen PDB dunia, Indonesia-Kanada CEPA, serta kesepakatan dagang dengan Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA).

Pemerintah juga tengah merajut negosiasi tarif dengan Amerika Serikat, mengawal proses aksesi menjadi anggota OECD, serta menggodok persiapan Indonesia-United Kingdom CEPA untuk menghadapi dinamika geoekonomi global.

Menko Airlangga mengapresiasi kontribusi Bank Dunia yang terus mengawal reformasi struktural di Indonesia melalui rilis laporan berkala tersebut.

“Temuan laporan memperkuat pentingnya stabilitas makroekonomi di samping reformasi struktural. Kami berharap dapat melanjutkan kemitraan dalam mempertahankan pertumbuhan yang kuat dan tangguh,” tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: