Imbas Konflik Timur Tengah, Bank Sentral Eropa Naikkan Suku Bunga

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 12 Juni 2026 | 04:00 WIB
Ilustrasi logo Bank Sentral Eropa (EBC). (Foto/Magnific)
Ilustrasi logo Bank Sentral Eropa (EBC). (Foto/Magnific)

BeritaNasional.com - Bank Sentral Eropa (ECB) resmi mengambil langkah agresif dengan menaikkan ketiga suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Kamis (11/6/2026). 

Langkah ini diambil guna meredam lonjakan tekanan inflasi yang kembali memanas di kawasan Eropa.

Melalui siaran pers resminya pada Kamis, ECB memerinci suku bunga fasilitas deposito yang menjadi instrumen utama dalam mengarahkan kebijakan moneter kini terkerek naik ke level 2,25 persen. 

Sementara itu, suku bunga untuk operasi refinancing utama dan fasilitas pinjaman marjinal kini masing-masing berada di angka 2,4 persen dan 2,65 persen.

ECB menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama di balik ketidakstabilan harga komoditas global yang berdampak langsung pada perekonomian Eropa.

"Perang di Timur Tengah memicu tekanan inflasi, dan keputusan untuk menaikkan suku bunga didasarkan pada berbagai skenario yang memetakan bagaimana guncangan tersebut dapat berkembang dan memengaruhi prospek jangka menengah untuk zona euro," tulis pernyataan resmi ECB.

Dampak Konflik Iran Terhadap Sektor Energi

Lonjakan laju inflasi di zona euro akhir-akhir ini memang didominasi oleh meroketnya harga energi di pasar global, yang dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran.

Kondisi ini memaksa ECB untuk merombak total proyeksi ekonomi mereka. Dalam dokumen perkiraan terbaru yang dirilis pada Kamis, bank sentral tersebut menaikkan estimasi inflasi untuk tahun 2026 dan 2027, melompat dari proyeksi awal yang sempat dikeluarkan pada Maret 2026.

Berdasarkan hitungan teranyar, rata-rata inflasi utama di zona euro kini diprediksi bakal menyentuh angka 3,0 persen pada 2026 dan berada di level 2,3 persen pada 2027. Angka ini naik signifikan dari target sebelumnya yang masing-masing dipatok sebesar 2,6 persen dan 2,0 persen.

Melihat dinamika yang berkembang, ECB memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi di benua biru masih akan dihadapkan pada jalan yang terjal dan penuh dengan ketidakpastian.

"Prospeknya tetap tidak pasti, dengan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi," kata ECB.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: