Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS, Ditopang Inflow Asing

Oleh: Tarmizi Hamdi
Jumat, 12 Juni 2026 | 17:59 WIB
Ilustrasi politik uang. (Foto/freepik)
Ilustrasi politik uang. (Foto/freepik)

BeritaNasional.com - Nilai tukar rupiah menunjukkan performa gemilang pada penutupan perdagangan pekan ini. Rupiah sukses menguat berkat respons positif pasar terhadap bauran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) serta derasnya aliran modal asing (capital inflows) yang masuk ke pasar keuangan domestik.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia saat ini semakin solid. 

Hal ini tidak lepas dari kebijakan menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), insentif hedging swap, hingga perluasan operasi moneter.

"Nilai tukar rupiah pada Jumat 12 Juni 2026 ditutup pada level Rp 17.865 per USD atau menguat 0,84 persen dibandingkan penutupan tanggal 5 Juni 2026 di level Rp 18.010 per USD," ujar Destry dalam keterangan persnya pada Jumat (12/6/2026). 

"Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," tambahnya.

Keputusan BI mengerek suku bunga acuan terbukti menjadi magnet bagi investor global. Pascakenaikan BI-Rate, daya tarik instrumen keuangan dalam negeri meningkat drastis. Tingginya minat ini tecermin dari lonjakan transaksi SRBI nonresiden Rp15,11 triliun dan surat berharga nasional (SBN) sebesar Rp3,91 triliun pada 10-11 Juni kemarin.

Selain itu, obligasi internasional Danantara juga sukses mencetak penjualan perdana hingga Rp26,9 triliun.

"Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," tambah Destry.

Perkuat Sabuk Pengaman Lewat Kerja Sama Regional

Tidak hanya mengandalkan instrumen domestik, BI juga memperluas "sabuk pengaman" finansial di kancah regional melalui kolaborasi erat dengan bank sentral China (PBOC) dan otoritas moneter Hong Kong (HKMA).

Kerja sama tripartit ini menghasilkan tiga kesepakatan krusial, yakni penguatan stabilitas keuangan regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan Local Currency Transaction (LCT). 

Langkah taktis ini dirancang untuk mereduksi ketergantungan terhadap dolar AS (dedolarisasi) sekaligus menjaga stabilitas rupiah.

Komitmen Jaga Stabilitas Rupiah

Destry menegaskan Bank Indonesia tidak akan kendur dalam mengawal momentum positif ini dan akan terus hadir di pasar secara konsisten.

"Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamental," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: