Uni Emirat Arab Berusaha Keras Kurangi Ketergantungan pada Selat Hormuz
BeritaNasional.com - Uni Emirat Arab (UAE) berupaya keras untuk menghapuskan ketergantungannya pada Selat Hormuz, usai penutupan jalur air penting tersebut baru-baru ini.
Menteri Perdagangan Luar Negeri UAE, Thani Al Zeyoudi mengatakan, UAE kini menuju ketergantungan nol pada Hormuz.
Dikutip dari Bloomberg, upaya UAE muncul saat pasar global menunggu pembukaan kembali selat sepenuhnya usai kesepakatan perdamaian antara Iran-AS.
Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair global sebelum perang.
Aliran migas di Selat Hormuz terganggu sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran. Oleh karena itu UEA ingin mandiri dan bebas dari ketergantungan Selat Hormuz.
Inti dari rencana UAE merupakan perluasan besar-besaran pelabuhan Timur Dibba, Fujairah, Khor Fakkan. Lokasinya terletak di luar selat di Pantai Teluk Oman.
UAE juga berencana membangun setidaknya satu pelabuhan baru di garis pantai yang sama, bersamaan dengan jaringan pipa, kereta api, dan jalan raya baru. Ini dibangun guna menghubungkan pelabuhan timur dengan ladang minyak, gas juga fasilitas perminyakan.
UAE sudah pakai pipa yang ada dengan kapasitas 1,5 juta barel per hari guna mengirimkan minyak mentah ke Fujairah, memungkinkan mereka untuk sebagian menghindari Selat Hormuz.
Mereka mengumumkan akan mempercepat pembanguna pipa kedua untuk meningkatkan kapasitas ekspor minyak mentah melalui Fujairah pada 2027.
Negara itu juga sedang mempelajari pipa minyak bumi ketiga dan opsi lain untuk mendukung ekspor petrokimia, LNG, dan produk energi lainnya.
Sebenarnya mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz itu sulit sebab mengalihkan LNG, aluminium, dan komoditas lainnya dari pelabuhan Teluk akan lebih kompleks daripada mengalihkan minyak mentah dan minyak olahan.
Sumber: Antara
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 20 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 16 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu







