Terancam Punah, Bahasa Wabo di Kepulauan Yapen Bakal Didokumentasikan Jadi Kamus

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:00 WIB
Audiensi perwakilan BRIN dengan Pemkab Kepulauan Yapen Papua. (Foto/doc BRIN)
Audiensi perwakilan BRIN dengan Pemkab Kepulauan Yapen Papua. (Foto/doc BRIN)

BeritaNasional.com - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen Papua berkomitmen menyelamatkan bahasa Wabo yang kini terancam punah. 

Langkah penyelamatan ini dimatangkan lewat audiensi bersama tim peneliti Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Jumat (12/6/2026).

Bupati Kepulauan Yapen Benyamin Arisoy menyambut positif inisiatif BRIN. Menurut dia, pelindungan bahasa daerah adalah pilar penting dalam menjaga identitas dan jati diri masyarakat Papua.

“Kami menyambut baik kehadiran BRIN di Kabupaten Kepulauan Yapen. Bahasa daerah merupakan bagian dari jati diri masyarakat yang perlu dijaga bersama. Pemerintah daerah mendukung penuh langkah-langkah pelindungan bahasa Wabo dan terbuka untuk mengembangkan kerja sama terhadap bahasa daerah lain di Kepulauan Yapen,” kata Benyamin Arisoy dalam pertemuan tersebut.

Benyamin menegaskan dukungan ini krusial agar warisan leluhur tersebut tidak hilang dan tetap bisa diwariskan ke generasi masa depan.

Peneliti BRIN Satwiko Budiono mengungkapkan alasan di balik pemilihan bahasa Wabo sebagai titik awal gerakan ini. 

Saat ini, jumlah penutur bahasa Wabo menyusut drastis dan mayoritas hanya tersisa di kalangan generasi tua (lansia).

“Bahasa Wabo menjadi salah satu bahasa dengan tingkat urgensi yang tinggi untuk didokumentasikan. Namun, pelindungan bahasa daerah tidak berhenti pada bahasa Wabo. Kolaborasi riset ini dapat diperluas untuk mendukung pelindungan bahasa daerah lain di Kabupaten Kepulauan Yapen yang membutuhkan perhatian serius,” ujarnya.

Ia menambahkan penyelamatan bahasa tidak bisa dilakukan sepihak. Harus ada sinergi kuat antara peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal sebagai pemilik bahasa agar program yang dirancang bisa berjalan berkelanjutan.

Di sisi lain, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kepulauan Yapen, Saskar Paiderouw, mengakui pihaknya menghadapi tantangan keterbatasan SDM di bidang dokumentasi kebahasaan. Karena itu, BRIN dinilai sebagai langkah strategis.

“Kami memiliki komitmen untuk mendukung pelindungan bahasa daerah. Meski sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang kebahasaan masih terbatas, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui program dan pendanaan yang disusun bersama dengan pendampingan dari BRIN,” jelas Saskar.

Sebagai tindak lanjut konkret, audiensi ini menyepakati penyusunan Kamus Bahasa Wabo. Proyek ini merupakan kelanjutan dari riset dokumentasi dan penyusunan tata bahasa yang tengah digarap BRIN.

Rencana tersebut akan didisposisikan kepada Bapperida bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen agar masuk dalam program resmi pelindungan budaya daerah.

Satwiko berharap kamus ini tidak sekadar menjadi tumpukan dokumen ilmiah di rak buku, melainkan alat hidup bagi masyarakat.

“Pelindungan bahasa tidak hanya berbicara tentang dokumentasi, tetapi juga bagaimana hasil penelitian dapat kembali kepada masyarakat dan dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali bahasa yang mulai ditinggalkan. Karena itu, penyusunan kamus bahasa Wabo menjadi salah satu langkah penting mendukung dokumentasi bahasa-bahasa di Indonesia,” tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: