Bahlil Sebut Indonesia Stop Impor Solar mulai Bulan Depan

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09 WIB
Pengendara motor saat antre mengisi bahan bakar minyak di SPBU. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Pengendara motor saat antre mengisi bahan bakar minyak di SPBU. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Pemerintah bakal menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tahun ini menyusul mandatori biodiesel 50 persen (B50) per Juli 2026. Kebijakan ini disebut sebagai upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor solar. 

“Besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Bahlil menjelaskan, total konsumsi solar di Indonesia saat ini telah mencapai 39 juta kiloliter (KL), dengan mandatori biodiesel 40 persen (B40) yang sudah diterapkan pemerintah.

“Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40, itu 40 persen pakai FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur, jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi solar yang namanya B40,” jelasnya.

Bahlil menilai, implementasi kebijakan B50 ini diharapkan mampu menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani sekaligus pengurangan impor BBM.

“Harga petani sawit lagi turun untuk menjamin market agar petani sawit kita harganya bagus, maka dilakukanlah hilirisasi terhadap konsumsi domestik,” ujarnya.

Ia pun memperkirakan bahwa pemerintah mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga 300 ribu barel per hari ketika mandatori B50 mulai berjalan.

“Jadi dengan B50 ini, konsumsi kita kan 50 persen dari solar itu kurang lebih sekitar 300 ribu barel per day yang bisa kita cover,” jelasnya.

“Jadi artinya impor solar, impor crude kita yang 1 juta barel per day itu tinggal sekitar 700 ribu barel per day, karena 300 ribu barelnya itu dikonversi dengan B50,” imbuhnya.

Trekait uji teknis B50 untuk sektor otomotif, telah dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada Juni 2026. Pemerintah juga masih melakukan uji teknis pada alat dan mesin pertanian (alsintan) serta alat pertambangan yang ditargetkan selesai pada semester II 2026.

Bahlil yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini ini menambahkan, pemerintah juga masih melakukan uji teknis B50 untuk sektor perkeretaapian dan pembangkit listrik meskipun prosesnya belum rampung sepenuhnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: