PAM Jaya Minta Maaf soal Kemacetan Akibat Proyek Pipanisasi Air Bersih

Oleh: Lydia Fransisca
Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:42 WIB
Ilustrasi PAM Jaya. (Foto/doc. PAM Jaya)
Ilustrasi PAM Jaya. (Foto/doc. PAM Jaya)

BeritaNasional.com - PT PAM Jaya meminta maaf kepada masyarakat atas dampak pengerjaan konstruksi pipa. karena menyebabkan sejumlah ruas jalan di Jakarta mengalami kemacetan.

BUMD DKI Jakarta itu menyebut pembangunan jaringan pipa masih terus berjalan untuk mengejar target cakupan layanan air bersih 100 persen pada 2029.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan pembangunan pipa yang dilakukan saat ini mencapai 1.200 kilometer. 

Dengan penambahan tersebut, total jaringan pipa PAM Jaya yang telah tertanam di Jakarta sekitar 13.200 kilometer.

Namun, Arief menyebut pembangunan jaringan pipa masih harus dilanjutkan karena masih terdapat kebutuhan sekitar 2.000 kilometer pipa baru untuk memenuhi target pelayanan seluruh warga Jakarta.

"Jadi, sekali lagi, saya juga memohon maaf kepada para pengguna jalan semuanya karena pastinya tidak mungkin kami tidak menggunakan bahu jalan untuk menyelesaikan pipanisasi di Jakarta," kata Arief kepada wartawan di Jakarta yang dikutip pada Sabtu (27/6/2026).

Arief menuturkan cakupan layanan PAM Jaya saat ini mencapai 82 persen atau melayani sekitar 8,9 juta jiwa warga Jakarta. 

Menurut dia, perusahaan masih memiliki pekerjaan untuk memperluas jaringan agar seluruh warga ibu kota dapat terlayani.

"Masih tersisa 2.000 lebih kilometer yang harus kami selesaikan," ujar Arief.

Ia menjelaskan pembangunan jaringan pipa tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mencapai target yang diberikan Pemprov DKI Jakarta agar cakupan layanan PAM Jaya mencapai 100 persen pada 2029.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung optimistis target cakupan layanan air bersih 100 persen dapat tercapai meski banyak pihak menilai target tersebut cukup berat.

"Sekarang capaian PAM JAYA sudah 82 persen. Dan saya yakin masih ada tiga tahun lagi pasti akan bisa terpenuhi untuk 100 persen," kata Pramono.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: