Kurang dari Seminggu, 1.000 Kematian Terjadi di Prancis Akibat Gelombang Panas

Oleh: Kiswondari
Selasa, 30 Juni 2026 | 15:33 WIB
Kota Paris, Prancis. (BeritaNasional/France.fr)
Kota Paris, Prancis. (BeritaNasional/France.fr)

BeritaNasional.com - Otoritas Prancis mencatat 1.000 kematian tambahan akibat gelombang panas dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Gelombang panas ini merupakan yang terparah selama lebih dari dua dekade.  

Melansir Russian Today (RT) pada Selasa (30/6/2026), suhu naik di atas 40 derajat Celcius di banyak wilayah Prancis, dan hari Selasa menandai hari terpanas di seluruh negeri sejak tahun 2003. Akibatnya, pada Minggu (28/6/2026), Badan Kesehatan Masyarakat Nasional mencatat 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni, dan 85 persen di antaranya berusia 65 tahun atau lebih.

“Hal ini menyoroti perlunya memperkuat langkah-langkah solidaritas bagi orang-orang yang terisolasi atau mengalami kesepian yang parah, termasuk mereka yang tinggal di daerah perkotaan padat penduduk,” kata Badan tersebut. 

Kematian di rumah juga melonjak hingga 40 persen, terutama di wilayah Ile-de-France, yang meliputi Paris. Wilayah lain yang terdampak parah termasuk Normandy, Brittany, Centre-Val de Loire, Pays de la Loire, dan Nouvelle-Aquitaine.

Bahkan, menurut RFI, beberapa acara dibatalkan di Paris, termasuk Pawai Pride tahunan. Para pejabat mengatakan, rumah sakit dan rumah duka di ibu kota kewalahan, dan layanan publik lainnya juga mengalami tekanan.

Atas kejadian ini, sejumlah politisi menuduh pemerintah tidak siap menghadapi krisis, dengan anggota parlemen sayap kiri Clemence Guette menyebut penanganan gelombang panas sebagai "bencana".

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menepis kritik tersebut.

“Tidak, saya tidak akan menyebutnya sebagai kegagalan,” katanya kepada Le Parisien pada hari Sabtu.

“Setiap layanan publik telah menjalankan tugasnya dengan baik karena kami telah siap, bertentangan dengan apa yang diklaim oleh beberapa politisi,” tambahnya.

Selain Prancis, pada hari Minggu (28/6/2026), suhu mencapai 41,7C di Jerman dan 41,1C di Republik Ceko.

“Stres panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap' – dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini,” tulis Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui unggahan di X.

Sumber: Russian Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: