Wamen LH Peringatkan Potensi Kebakaran TPA di Seluruh Indonesia Akibat El Nino

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 06 Juli 2026 | 11:30 WIB
Lokasi kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. (Foto/Kemen LH).
Lokasi kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. (Foto/Kemen LH).

BeritaNasional.com - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang dipicu cuaca ekstrem.

Hal ini dikatakannya usai meninjau langsung lokasi kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Peninjauan dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal sekaligus memperkuat langkah antisipasi potensi kebakaran TPA di berbagai daerah akibat dampak fenomena El Nino.

“Pak Menteri Jumhur sudah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah untuk mengantisipasi, WMO sudah memberikan warning bahwa El Nino ini akan lebih gawat lagi artinya kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia, surat edaran ini merincikan hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh kepala daerah di daerah masing-masing mengantisipasi El Nino,” tegas Wamen Diaz.

Diaz menegaskan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Jatiwaringin menjadi prioritas utama pemerintah. Menurutnya, perubahan arah angin berpotensi memperluas dampak asap ke kawasan permukiman penduduk.

“Ditekankan bahwa keselamatan itu prioritas dari KLH juga, arah angin bisa berubah setiap saat, yang saat ini ke arah timur, mungkin besok bisa ke arah barat, masalahnya kalau angin ini ke arah barat ini banyak pemukiman, lalu kami bicara juga dengan Pak Bupati, sudah melakukan antisipasi untuk pengecekkan ISPA, penanganan pengungsian ketika arah angin nanti berubah," jelasnya.

Kebakaran TPA Jatiwaringin diketahui telah memasuki hari kelima. Asap pertama kali terpantau warga pada 28 Juni 2026 dan mencapai puncaknya pada 30 Juni 2026. Menurut Diaz, proses pemadaman menghadapi tantangan karena karakteristik kebakaran menyerupai kebakaran lahan gambut, di mana api masih dapat menyala di lapisan bawah meski bagian permukaan tampak padam.

“Hari ini kami lihat kebakaran sudah hari ke-5 dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah ya, ini karakteristiknya seperti kebakaran lahan gambut karena mungkin di atasnya sudah terlihat padam tapi ketika lihat di bagian bawahnya masih ada api nya, kapan saja bisa terus kebakar, ada CH4 nya, bisa ada potensi ledakan juga,” jelas Diaz.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi kebakaran demi menghindari risiko gangguan kesehatan maupun bahaya lainnya.

“Kami juga memberikan atensi kepada keselamatan para pekerja, para pemulung disini, jangan sampai pemulung sini terkena dampaknya, dan juga masyarakat sekitar, kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga, ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton karena semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan untuk kena penyakit apapun juga," bebernya.

KLH/BPLH juga telah mengerahkan sejumlah langkah pendukung dalam penanganan kebakaran, termasuk pemantauan udara dan penggunaan teknologi drone untuk memonitor kondisi di lapangan.

“Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2 (sulfur dioxide), NO2 (nitrogen dioxide), PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu,” kata Diaz.

Selain itu, Diaz mengapresiasi dukungan Kementerian Kehutanan yang mengirimkan personel Manggala Agni untuk membantu proses pemadaman.

“Terima kasih juga kepada Kementerian Kehutanan yang telah membantu kami dalam memadamkan api, 30 personil (Manggala Agni) hadir disini dan mereka ini ahli dalam memadamkan gambut jadi yang serupa dengan TPA ini, mungkin kurang efektif jika diairi dari atas saja di bawahnya tetap kebakar sehingga perlu bantuan manggala agni untuk injection sampe titik di bawah”.

Diaz juga memastikan program waste-to-energy (WTE) yang menjadi program prioritas pemerintah tetap akan berjalan dan membutuhkan dukungan pemerintah daerah.

“Terkait WTE, kami pastikan bahwa program ini masih bisa tetap berjalan, dan tanah yang dialokasikan untuk WTE agar tidak digunakan untuk hal-hal lain, kita harus mendorong program Bapak Presiden yang sangat baik ini, tetap dijaga terus oleh bupati, demi sukseskan program Presiden”.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: