Rahasia Timnas Prancis Tembus Semifinal Piala Dunia 3 Kali Beruntun
BeritaNasional.com - Pelatih Tim Nasional (Timnas) Prancis Didier Deschamps membeberkan kunci sukses skuadnya setelah berhasil mengamankan tiket semifinal Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Kesuksesan timnas berjuluk Les Bleus kali ini dipastikan usai menumbangkan perlawanan sengit Maroko dengan skor 2-0 di Boston Stadium pada Jumat (10/7/2026).
Bagi Deschamps, pencapaian luar biasa ini bukan sekadar buah dari kehebatan individu pemain, melainkan bukti nyata dari kematangan mental dan pengalaman kolektif tim yang mampu meredam tekanan di turnamen besar.
"Ini adalah sebuah konfirmasi atas konsistensi kami, dan kami sangat bangga bisa kembali berada di semifinal untuk ketiga kalinya secara beruntun," ujar Deschamps yang dikutip dari laman resmi FIFA pada Jumat.
Meskipun Prancis mendominasi serangan sejak awal laga, mereka sempat kesulitan mengonversi peluang di babak pertama, termasuk kegagalan penalti yang memaksa kiper Maroko, Yassine Bounou, bekerja ekstra keras.
Namun, Deschamps menegaskan anak asuhnya tetap tenang dan jeli memanfaatkan penurunan fisik lawan di babak kedua.
"Melihat jalannya babak pertama, dengan tiga peluang emas yang terbuang termasuk penalti, performa kami memang belum maksimal dalam hal efektivitas. Namun, kami berhasil membuat lawan terus berlari hingga mereka kelelahan, dan itu membuka ruang bagi kami untuk bermain lebih menyerang serta mengunci pergerakan mereka," tambahnya.
Kylian Mbappe yang sempat gagal mengeksekusi penalti akhirnya membayar tuntas kesalahannya dengan mencetak gol pembuka, yang sekaligus menggenapkan koleksi golnya di Piala Dunia menjadi 20 gol. Menanggapi situasi tersebut, Deschamps mengaku sama sekali tidak meragukan kapasitas sang penyerang bintang.
"Jika itu menyangkut Kylian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia adalah tipe pemain yang tidak pernah meragukan kemampuannya sendiri," tegas pria asal Prancis ini.
Selain faktor ketajaman lini depan, pelatih yang membawa Prancis juara pada 2018 ini menilai aspek pengalaman menjadi pembeda utama yang membuat skuadnya tampil jauh lebih dewasa dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Pengalamanlah yang membedakan atmosfer semifinal pertama kami di tahun 2018 dengan kondisi saat ini. Kami tidak sekadar meniru formula lama karena situasi dan kondisinya sudah berbeda, tetapi kami tahu persis apa yang diperlukan untuk menang, terutama menjaga mentalitas yang tepat di dalam tim," jelasnya.
Kunci keharmonisan lini belakang hingga depan Les Bleus juga tidak lepas dari solidnya atmosfer ruang ganti, di mana para pemain pelapis tetap memberikan dukungan penuh meski tidak mendapat menit bermain yang banyak.
"Beberapa pemain mungkin jarang tampil di lapangan, tetapi saya mendampingi mereka setiap hari. Mereka semua bertarung demi tim dan memahami bahwa mengenakan jersey Prancis adalah sebuah tanggung jawab besar kepada negara, kepada fans, dan kepada generasi muda," kata sang pelatih.
Deschamps juga memanfaatkan momen ini untuk menepis anggapan miring publik yang kerap melabeli kapten timnya, Mbappe, sebagai sosok yang egois dan individualis di lapangan.
"Banyak orang mengira Kylian hanya memikirkan dirinya sendiri, padahal itu sama sekali tidak benar. Sebagai kapten, dia adalah teladan yang luar biasa. Ketika Dembele mencetak hat-trick, Kylian merayakannya dengan sangat gembira, seolah-olah dia sendiri yang mencetak gol tersebut," ungkap Deschamps
Pelatih berusia 57 tahun itu mengingatkan anak asuhnya untuk tidak cepat puas, mengingat tantangan berat sudah menanti di babak empat besar antara Spanyol atau Belgia.
"Kami memang sudah berada di semifinal, tetapi perjalanan belum usai karena kami belum sampai di final. Masih ada satu pertandingan sangat sulit yang harus dilewati, dan target kami adalah melaju ke partai puncak, selangkah demi selangkah," tandasnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu






