Argentina Pikul Harapan Terakhir Amerika Selatan Kontra Swiss

Oleh: Tarmizi Hamdi
Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:58 WIB
Timnas Argentina usai melawan Mesir di Piala Dunia 2026. (Foto/FIFA)
Timnas Argentina usai melawan Mesir di Piala Dunia 2026. (Foto/FIFA)

BeritaNasional.com - Argentina kini berdiri sendiri sebagai satu-satunya tumpuan harapan Amerika Selatan di Piala Dunia. Sebagai juara bertahan, Albiceleste akan menantang Swiss dalam laga krusial babak perempat final yang digelar pada hari Sabtu.

Anak asuh Lionel Scaloni menjadi wakil konfederasi CONMEBOL terakhir yang tersisa, menyusul rontoknya Brasil, Kolombia, dan Paraguay di babak 16 besar.

Kini, Argentina hanya terpaut tiga kemenangan lagi untuk menyamai rekor legendaris Brasil pada tahun 1962 sebagai tim yang sukses mempertahankan trofi Piala Dunia.

Mentalitas Pantang Menyerah Albiceleste

Perjalanan Argentina menuju delapan besar tahun ini terbilang penuh drama. Mereka harus berjuang hingga babak perpanjangan waktu untuk menjinakkan Cape Verde 3-2 di babak 32 besar.

Ketangguhan mental Messi cs kembali diuji di babak 16 besar saat tertinggal dua gol dari Mesir, sebelum akhirnya bangkit dan menang dengan skor tipis 3-2.

Bagi Scaloni, keluar dari lubang jarum dalam dua laga tersebut membuktikan bahwa timnya memiliki kedewasaan mental yang luar biasa.

"Saya ingin tim nasional ini dikenang sebagai tim yang tidak pernah menyerah," tegas pelatih berusia 48 tahun itu dalam sesi konferensi pers, Jumat (10/7/2026).

"Bermain untuk Argentina berarti Anda menikmati permainan seperti anak kecil di jalanan. Anda tidak pernah menyerah dan kesal saat kehilangan bola. Mentalitas itulah yang kami pertahankan," tambahnya.

Dalam laga dramatis di Atlanta melawan Mesir, Argentina sempat tertinggal 2-0 hingga menit ke-79. 

Namun, keajaiban terjadi dalam 11 menit terakhir waktu normal lewat gol-gol dari Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez yang membalikkan keadaan.

Messi Belum Habis, Komposisi Lini Serang Dipertahankan

Scaloni juga menepis kritik yang menyebut performa fisik Lionel Messi mulai menurun di level tertinggi. Di usianya yang menginjak 39 tahun, turnamen ini kemungkinan besar menjadi panggung Piala Dunia terakhir bagi sang megabintang.

"Dia tidak berlari lebih sedikit dari sebelumnya. Secara fisik, dia mempersiapkan diri dengan sangat baik bersama pelatih kebugaran dan itu membuahkan hasil. Messi memberikan segalanya," ujar Scaloni membela kaptennya.

Menghadapi Swiss, Scaloni mengisyaratkan tidak akan banyak merombak starting XI yang diturunkan saat melawan Mesir. Opsi untuk menduetkan Lautaro Martinez dan Julian Alvarez di lini depan tetap terbuka lebar.

Swiss Siap Redam Messi Walau Kehilangan Pilar Kunci

Di kubu lawan, Swiss berhasil menembus perempat final pertama mereka sejak 1954 setelah mendepak Kolombia lewat adu penalti yang menegangkan di Vancouver. Ketangguhan kiper Gregor Kobel dan eksekusi penalti penentu dari Ruben Vargas menjadi kunci sukses Nati.

Menghadapi Argentina, kapten Swiss Granit Xhaka menegaskan timnya tidak akan bermain bertahan total, melainkan fokus membatasi ruang gerak Messi.

"Saya tidak tahu apakah ada yang bisa menghentikan Messi selama 90 menit. Namun, kami harus cerdas, tetap kompak, dan menutup ruang. Kami juga ingin menguasai bola, karena jika bola ada pada kami, dia tidak bisa berbuat apa-apa," tutur Xhaka.

Sayangnya, Swiss harus tampil pincang tanpa gelandang muda Johan Manzambi yang mengalami cedera lutut parah. Kehilangan Manzambi yang sudah membukukan 3 gol dan 2 assist di turnamen ini menjadi pukulan telak bagi pelatih Murat Yakin.

Pertemuan ini sekaligus membuka memori Piala Dunia 2014, saat Argentina mendepak Swiss di babak 16 besar lewat gol tunggal Angel Di Maria di menit ke-118. Kendati demikian, Xhaka yang juga bermain dalam laga 12 tahun lalu itu menolak narasi balas dendam.

"Ini pertandingan yang sama sekali berbeda dari tahun 2014. Kami sekarang berada di perempat final dan kami hanya ingin menang," ucap pemain berusia 33 tahun itu.

Pemenang dari laga sengit antara Argentina dan Swiss ini sudah ditunggu oleh Inggris atau Norwegia di babak semifinal.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: