Mengapa Karat Emas Penting untuk Mahar Pernikahan? Ini Penjelasannya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Minggu, 12 Juli 2026 | 11:32 WIB
Ilustrasi pernikahan (Foto/Very well mind)
Ilustrasi pernikahan (Foto/Very well mind)

BeritaNasional.com -  Dalam merencanakan pernikahan, menyiapkan mahar menjadi suatu hal yang krusial. Mahar khususnya emas sebaiknya telah disiapkan dari jauh hari agar anggaran yang ada tidak terpakai untuk kebutuhan lainnya.

Tapi tahukah kamu karat emas untuk mahar? Mengapa karat emas penting untuk mahar pernikahan? 

Berikut ulasan singkatnya dilansir dari laman Pegadaian

Karat emas

Karat menunjukkan kadar kemurnian emas dalam suatu perhiasan. Semakin tinggi angka karatnya, semakin besar pula kandungan emas murni di dalamnya.

Sebagai gambaran, emas 24 karat mengandung sekitar 99,9% emas murni, emas 22 karat sekitar 91,6%, dan emas 18 karat sekitar 75%. Perbedaan ini tidak hanya memengaruhi nilai, tetapi juga karakter fisik dari perhiasan tersebut.

Dalam konteks mahar pernikahan, kadar emas berpengaruh pada beberapa hal penting. Dari sisi tampilan, karat menentukan warna dan kilau emas. Dari sisi ketahanan, kadar yang lebih rendah biasanya lebih kuat karena mengandung campuran logam lain.

Selain itu, kadar emas juga berkaitan dengan nilai jual kembali jika suatu saat ingin disimpan atau dialihkan.

Meski begitu, tidak ada ketentuan khusus mengenai kadar maupun jumlah gram emas yang harus dijadikan mahar. Penentuannya tetap bergantung pada kesepakatan dan kemampuan masing-masing pasangan, sehingga tetap terasa ringan namun bermakna.
 

Emas untuk Mahar Berapa Karat yang Direkomendasikan?

1. Emas 24 Karat

Emas 24 karat dikenal sebagai emas murni dengan kandungan hingga 99,9%. Warnanya kuning pekat dan terlihat sangat mencolok. Jenis emas ini sering dipilih sebagai mahar pernikahan sekaligus berfungsi sebagai simpanan aset dalam bentuk emas batangan.

Namun, sifatnya yang sangat lunak membuatnya mudah berubah bentuk sehingga kurang cocok untuk cincin nikah yang dipakai setiap hari.

2. Emas 22 Karat

Dengan kandungan sekitar 91,6% emas murni, emas 22 karat masih terlihat mewah dan bernilai tinggi. Meski lebih kuat dibanding emas murni, karakter emas ini masih cukup lunak untuk perhiasan yang dipakai sehari-hari.

Penggunaan emas 22 karat untuk cincin nikah memang ada, tetapi tidak sepopuler kadar di bawahnya.

3. Emas 18 Karat

Emas 18K mengandung 75% emas murni dan 25% logam campuran. Kadar ini sering dianggap sebagai titik tengah yang paling pas untuk menjawab emas untuk mahar berapa karat yang paling ideal.

Perhiasan dengan kadar emas 18K biasanya memiliki warna yang tetap terlihat elegan, cukup kuat untuk pemakaian sehari-hari, dan tidak mudah berubah bentuk.

Selain itu, kandungan logam campuran yang tidak berlebihan membuatnya lebih nyaman digunakan, termasuk bagi kamu yang memiliki kulit sensitif.

4. Emas 14 Karat

Emas 14K memiliki kandungan emas murni sekitar 58%. Sisanya adalah logam campuran, seperti tembaga, perak, atau nikel, yang membuat karakteristik emas ini menjadi lebih kuat.

Kelebihan emas 14K terletak pada daya tahan dan harga yang lebih terjangkau. Namun, warna emasnya tidak sepekat kadar emas yang lebih tinggi.

Selain itu, kandungan logam campuran yang tinggi juga bisa memicu reaksi pada kulit sehingga perlu pertimbangan yang matang jika ingin memilih emas ini sebagai mahar pernikahan.

5. Kadar 17 Karat

Selain beberapa macam kadar emas yang umum sebelumnya, ada juga emas dengan kadar 17 karat yang bisa menjadi alternatif.

Kadar ini bisa menjadi pilihan jika ingin harga yang lebih ringan, tetapi tetap memiliki tampilan yang cukup menarik dan kualitas yang masih layak untuk cincin nikah.
 

Syarat Mahar Emas dalam Pernikahan

1. Memiliki Nilai yang Jelas

Mahar harus berupa sesuatu yang bernilai secara ekonomi. Emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan, termasuk pilihan yang umum karena nilainya mudah diukur dan cenderung stabil.

2. Bukan Barang yang Dilarang

Mahar harus berasal dari sesuatu yang halal dan bisa memberikan manfaat. Dalam hal ini, emas menjadi pilihan yang sesuai karena tidak bertentangan dengan ketentuan syariat dan dapat digunakan atau disimpan sebagai aset.

3. Diperoleh Secara Sah

Emas yang dijadikan mahar harus berasal dari kepemilikan yang sah. Artinya, mahar tersebut bukan hasil tindakan yang melanggar hukum, seperti pencurian atau perampasan.

Hal ini penting agar mahar benar-benar menjadi pemberian yang baik dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

4. Jenis dan Bentuk yang Jelas

Mahar perlu disebutkan secara rinci dan disepakati oleh kedua belah pihak sebelum akad. Misalnya, cincin emas dengan berat tertentu atau perhiasan dengan desain yang sudah ditentukan. Kejelasan ini membantu menghindari kesalahpahaman setelah pernikahan.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: