Wabah Ebola di Kongo Tembus 2.900 Kasus, Vaksin Baru Masuk Uji Klinis pada Manusia

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)

BeritaNasional.com - Situasi penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kian mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan bahwa jumlah akumulatif kasus positif kini telah menyentuh angka 2.905 orang, dengan total kematian mencapai 1.269 jiwa.

Dalam keterangan resminya, pihak kementerian menjelaskan bahwa lonjakan tajam pada angka kumulatif ini terjadi setelah dilakukannya sinkronisasi data.

Basis data dari wilayah terdampak di Provinsi Ituri dan Kivu Utara baru saja diintegrasikan ke dalam sistem nasional. Oleh karena itu, lonjakan ini tidak serta-merta menggambarkan ledakan kasus baru dalam 24 jam terakhir, melainkan mencakup data kasus lama yang sebelumnya belum sempat terinput.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 519 pasien dinyatakan telah sembuh dari paparan virus mematikan tersebut. Sementara itu, 722 pasien lainnya dilaporkan masih berada di ruang isolasi atau sedang menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan.

Respons Pemerintah dan Edukasi Dini Masyarakat

Saat meninjau wilayah terdampak di Kisangani, Ibu Kota Provinsi Tshopo, Perdana Menteri Judith Suminwa Tuluka menyoroti tingginya tingkat keterlambatan penanganan medis.

Banyak pasien yang baru mendatangi fasilitas kesehatan setelah kondisi mereka kritis, sehingga proses pengobatan menjadi jauh lebih sulit.

Guna mengatasi masalah tersebut, PM Tuluka menegaskan bahwa pemerintah akan memperluas program pelatihan komunitas dan menggencarkan kampanye kesadaran publik.

Langkah ini diharapkan mampu mendorong masyarakat yang merasakan gejala awal untuk segera mencari pertolongan medis sejak dini.

"Pemerintah telah mengalokasikan dana darurat sebesar 50 juta dolar AS untuk penanganan Ebola. Prioritas anggaran ini akan diarahkan pada penguatan fasilitas laboratorium, penyediaan peralatan medis, pengawasan berbasis komunitas, serta pembiayaan perawatan intensif bagi pasien," ujar PM Tuluka.

Uji Klinis Vaksin Generasi Terbaru

Di tengah situasi darurat ini, angin segar datang dari sektor sains. Universitas Oxford mengumumkan bahwa relawan manusia pertama di dunia telah menerima suntikan uji coba untuk vaksin Ebola terbaru bernama ChAdOx1 BDBV. Vaksin yang dikembangkan oleh Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute ini dirancang khusus untuk menangkal virus Ebola dari strain Bundibugyo, yang menjadi pemicu wabah saat ini.

Dalam proyek berskala besar ini, lembaga manufaktur asal India, Serum Institute of India, dilaporkan telah memproduksi dan mengamankan sekitar 620.000 dosis vaksin. Sebanyak 4.000 dosis di antaranya dikirim khusus untuk keperluan investigasi medis selama masa uji coba.

Pada studi klinis tahap awal ini, para peneliti akan melibatkan 50 orang dewasa sehat sebagai sukarelawan untuk memantau tingkat keamanan serta respons imun yang dihasilkan oleh vaksin. Melalui kerja sama dengan otoritas regulasi medis terkait, pihak Universitas Oxford juga tengah mempersiapkan kelanjutan studi klinis ini di Uganda.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: