Kejagung Dalami Peran Riza Chalid Terkait Korupsi Tata Kelola Minyak

BeritaNasional.com - Nama saudagar minyak Mohammad Riza Chalid atau Riza Chalid ternyata masuk dalam salah satu pihak yang perannya turut didalami oleh penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung).
Pendalaman dilakukan setelah anaknya, Muhammad Kerry Andrianto Riza (MKAR), selaku Beneficial PT Navigator Khatulistiwa jadi tersangka atas dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang pada PT Pertamina-KKKS 2018 hingga 2023.
"Itu yang akan didalami oleh penyidik (peranan Riza Chalid)," kata Kapuspenkum Kejagung Harli Siregar kepada wartawan pada Rabu (26/2/2025).
Menurut dia, pendalaman ini dilakukan sejalan dengan penggeledahan di kediaman Riza Chalid di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Selasa (25/2/2025).
Penyidik berhasil mengantongi sejumlah barang bukti yang disita, yakni uang tunai sejumlah Rp 857.528.000, dokumen, dan barang bukti elektronik berkaitan dengan perkara tersebut.
"Kenapa ada di rumah yang bersangkutan? Apakah bagaimana perannya dan seterusnya tentu ya itu yang akan dicari benang merahnya oleh penyidik," ujarnya.
Namun, saat ini, total tersangka masih tujuh, yakni Riva Siahaan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga, dan Yoki Firnandi selaku Dirut PT Pertamina International Shipping.
Kemudian, tersangka lainnya adalah Sani Dinar Saifuddin selaku Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina Internasional, Agus Purwono selaku Vice President Feedstock Manajemen PT Kilang Pertamina Internasional.
Lalu, MKAN selaku Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa, DW selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, dan DRJ selaku Komisaris PT Jenggala Maritim sekaligus Dirut PT Orbit Terminal Mera.
“Nah, itu yang saya sampaikan bahwa itu sangat tergantung dengan fakta-fakta hukum nantinya yang diperoleh dalam perkembangannya. Kenapa? Karena ini kan penyidikan sudah menetapkan tujuh tersangka,” katanya.
“Nah, secara SOP, penyidik tentu akan melakukan penyidikan, pemeriksaan, pengumpulan bukti-bukti berdasarkan alat bukti kepada tujuh tersangka ini,” tambah Harli.
Jadi, ada peran pihak lain dalam kasus korupsi yang telah mengakibatkan kerugian negara Rp 193,7 triliun. Tergantung dari hasil keterangan para saksi dan barang bukti yang diperoleh penyidik.
“Kita kaji (barang bukti dan keterangan saksi), ternyata ada peran pihak lain di sana yang berkaitan? Kenapa tidak? Saya kira sangat tergantung dengan ada tidaknya bukti permulaan yang cukup,” imbuhnya.
Kasus ini bermula dari tersangka Riva Siahaan (RS) Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga yang mengimpor minyak RON 90 atau sejenis pertalite. Namun, diolah sedemikian rupa menjadi RON 92 atau pertamax.
Semua minyak itu dipesan oleh RS dengan mengimpor minyak mentah melalui PT Kilang Pertamina International dan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan melibatkan DMUT/broker yang salah satunya adalah perusahaan Muhammad Kerry Andrianto Riza (MKAR).
Padahal, saat itu, Pertamina diwajibkan mencari pasokan minyak bumi dari kontraktor dalam negeri sebelum merencanakan impor sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Permen ESDM Nomor 42 Tahun 2018.
Jadi, para tersangka telah dijerat dengan Pasal 2 Ayat 1 Juncto Pasal 3 Juncto Pasal 18 UU Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP atas dugaan perbuatan melawan hukum yang telah mengakibatkan kerugian negara Rp 193,7 triliun.
8 bulan yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 9 jam yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 16 jam yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu