Kebijakan Tarif Trump, Dampak Besar bagi Perdagangan Dunia

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 03 April 2025 | 13:31 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto/doc. Donald J Trump)
Presiden AS Donald Trump (Foto/doc. Donald J Trump)

BeritaNasional.com -  Kebijakan terbaru tarif perdagangan AS yang diumumkan pada Rabu lalu, diperkirakan akan semakin melemahkan ekonomi global, yang baru saja mulai pulih dari lonjakan inflasi pascapandemi.

Kondisi ini diperburuk oleh utang yang mencapai rekor tertinggi serta ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik.

Tergantung pada bagaimana Presiden Donald Trump dan pemimpin negara lain menanggapi kebijakan ini, tarif baru tersebut bisa menjadi titik balik bagi sistem perdagangan global yang selama ini mengandalkan kekuatan serta stabilitas Amerika Serikat sebagai pilar utamanya.

Kebijakan tarif Trump berisiko merusak tatanan perdagangan bebas global yang justru dipelopori oleh AS sejak Perang Dunia II. Namun, dalam beberapa bulan ke depan, dampak yang paling dirasakan adalah kenaikan harga barang dan jasa yang dapat mengurangi permintaan secara global.

“Saya melihat kebijakan ini sebagai sinyal perlambatan ekonomi AS dan dunia, peningkatan ketidakpastian, dan bahkan kemungkinan menuju resesi global,” ujar Antonio Fatas, makroekonom INSEAD, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (3/4/2025).

Dalam pidatonya di Rose Garden, Gedung Putih, Trump mengumumkan penerapan tarif dasar 10% pada seluruh impor, serta tarif yang lebih tinggi terhadap beberapa mitra dagang utama, termasuk 34% untuk China dan 20% untuk Uni Eropa. Selain itu, tarif 25% untuk sektor otomotif dan suku cadang juga telah dikonfirmasi. Menurut Trump, kebijakan ini bertujuan untuk mengembalikan kemampuan manufaktur strategis ke dalam negeri.

Dengan tarif global baru ini, rata-rata tarif impor AS melonjak menjadi 22%—tingkat yang terakhir kali terlihat pada tahun 1910 dari sebelumnya hanya 2,5% pada 2024, menurut Olu Sonola, kepala riset ekonomi AS di Fitch Ratings.

Sonola menambahkan bahwa perubahan kebijakan ini bukan hanya berdampak besar bagi ekonomi AS, tetapi juga bagi perekonomian global secara keseluruhan. “Banyak negara kemungkinan akan mengalami resesi akibat kebijakan ini,” katanya.

Meski demikian, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa dirinya belum melihat tanda-tanda resesi global saat ini. Namun, ia mengisyaratkan bahwa IMF akan sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2025 yang sebelumnya diperkirakan sebesar 3,3%.

Dampak kebijakan ini akan bervariasi di setiap negara, mengingat tarif yang dikenakan berkisar antara 10% untuk Inggris hingga 49% untuk Kamboja.

Jika kebijakan ini memicu perang dagang yang lebih luas, dampak terbesarnya akan dirasakan oleh negara produsen utama seperti China, yang harus mencari pasar baru di tengah lesunya konsumsi domestik.

“Ekonomi Asia akan terdampak lebih besar dibanding wilayah lain akibat tarif balasan dari AS,” ujar Marcel Thieliant, kepala analisis Asia-Pasifik di Capital Economics.

“Selain menghadapi tarif yang lebih tinggi, negara-negara Asia juga lebih bergantung pada permintaan barang dari AS dibanding wilayah lain.”sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: