Kemunculan Perdana Rahayu Saraswati Sebagai Anggota DPR RI usai Kisruh MKD
BeritaNasional.com - Setelah kisruh dugaan pelanggaran etik di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terhadap beberapa anggota DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo tampil perdana sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dalam forum internasional bertajuk ASEAN Youth Creative Meeting dengan tema "Creative Synergy for a Resilient ASEAN: Designing Purposeful Future".
Pada 30 Oktober 2025, MKD memutuskan bahwa Rahayu tetap sebagai Anggota DPR RI. Keputusan ini merupakan tindak lanjut surat Majelis Kehormatan Partai Gerindra Nomor 10-043/B/MK-GERINDRA/2025 tertanggal 16 Oktober 2025 perihal surat keterangan keanggotaan Rahayu Saraswati di DPR RI.
Saat membaca putusan itu, Sara juga masih mempertimbangkan apakah ia akan tetap menjadi anggota DPR atau tetap mundur sebagaimana keputusannya pada 10 September 2025 lalu. Dan pada Kamis (13/11/2025) lalu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa Rahayu sudah aktif kembali di Fraksi Gerindra.
Dalam forum itu, Rahayu mengungkapkan sebanyak 63 persen anak muda usia 35 tahun ke bawah bisa menjadi kekuatan baru di tataran Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau negara Asia Tenggara.
"Saat ini ada 63 persen anak-anak muda usia di bawah 35 tahun dari total jumlah populasi ASEAN dan ini potensi yang besar jika kita bisa mengelolanya dengan baik," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo di Kota Padang, Senin (24/11/2025).
Menurut Rahayu, tema besar tersebut sejalan dengan semangat mengembangkan kreativitas dan talenta yang bertujuan menjadikan Asia Tenggara kekuatan besar di dunia pada tahun 2035.
Dan untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai pemain penting dalam tataran global, kata Rahayu, maka terdapat beberapa tantangan besar yang mesti disikapi semua pihak terutama kalangan pemuda.
"Pertama, kita harus menciptakan ekosistem yang baik dulu," kata dia.
Ia menjelaskan, penciptaan ekosistem yang baik tidak hanya berupa konektivitas atau relasi antara pemuda dengan banyak organisasi di tataran global. Namun, lebih dari itu sisi finansial juga harus mendukung.
"Yang pasti ekosistem ini harus terejawantahkan menjadi kekuatan ekonomi dan harus didukung institusi keuangan," terangnya.
Sumber: Antara
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







