Imigrasi Amankan 29 WNA China yang Serang TNI di Tambang Emas Ketapang

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 19 Desember 2025 | 19:06 WIB
Imigrasi amankan 29 WNA China yang serang TNI di tambang emas ketapang. (Foto/Istimewa)
Imigrasi amankan 29 WNA China yang serang TNI di tambang emas ketapang. (Foto/Istimewa)

BeritaNasional.com - Kantor Imigrasi Kelas II Ketapang telah mengamankan sementara 29 orang warga negara asing (WNA) asal China terkait terjadinya pengeroyokan terhadap prajurit TNI di kawasan tambang emas milik PT Sultan Rafli Mandiri (SRM), Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu (14/12/2025) lalu.

"Jumlah WNA yang diamankan berpotensi bertambah menjadi 34 orang," kata Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Ketapang Ida Bagus Putu Widia Kusuma di Ketapang, Jumat (19/12/2025).

Ida Bagus menjelaskan, saat ini seluruh WNA itu telah diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.

"Yang pasti, WNA-nya saat ini sudah diamankan di Kantor Imigrasi Ketapang dan sementara jumlahnya ada 29 orang. Mungkin akan bertambah karena total yang diduga terlibat sebenarnya ada 34 orang, namun lima orang lainnya tidak berada di lokasi saat proses pengamanan dilakukan," tuturnya.

Menurut Ida Bagus, dari total 29 WNA yang telah diamankan, sebanyak 26 orang ditemukan di lokasi kejadian, sementara tiga orang lainnya diamankan dari sebuah penginapan di Kecamatan Tumbang Titi.

Saat ini, lanjut dia, pihak Imigrasi sedang melakukan verifikasi dan pemeriksaan lanjutan terhadap dokumen keimigrasian serta aktivitas para WNA tersebut.

"Kami sedang melakukan pemeriksaan terkait keberadaan dan kegiatan WNA tersebut, apakah telah sesuai dengan izin tinggal yang dimiliki. Verifikasi dan klarifikasi juga akan dilakukan kepada pihak sponsor yang mendatangkan para WNA, dengan pendampingan dari Direktorat Jenderal Imigrasi," terangnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi Yuldi Yusman menyatakan pihaknya telah menurunkan tim ke Ketapang dan berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi setempat sejak terjadinya peristiwa tersebut.

"Pengamanan dilakukan dengan melibatkan unsur TNI dan Polri. Unsur yang bergabung antara lain Dandim, Kapolres, jajaran Polsek, Mabes TNI, serta Kodam," kata Yuldi di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Jakarta Selatan.

Yuldi menegaskan, pengamanan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Imigrasi, TNI, dan Polri guna menjaga situasi tetap kondusif. Ia pun memastikan bahwa para WNA asal China yang diamankan tidak dikenakan tindakan pendetensian atau penahanan, melainkan hanya dititipkan sementara di Kantor Imigrasi Ketapang selama proses pemeriksaan berlangsung.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, 29 WNA China tersebut berstatus sebagai pemegang izin tinggal terbatas atau KITAS," katanya.

Pihak Imigrasi menegaskan akan menindaklanjuti hasil pemeriksaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila ditemukan pelanggaran keimigrasian.

Kronologi TNI Diserang Belasan WNA China

Sebelumnya, Kapendam XII/Tanjungpura Kolonel Inf Eko Wardono buka suara terkait penyerangan yang menimpa empat prajurit anggota Batalyon Zipur 6/SD oleh WNA China di Ketapang, Kalbar. Ia membenarkan kabar di media sosial tentang penyerangan di dekat perusahaan pertambangan emas PT Sultan Rafli Mandiri (SRM) oleh 15 WNA.

“Ini ada beberapa hal yang saya sampaikan. Bahwa informasi tersebut memang benar adanya, aksi penyerangan terhadap 4 orang prajurit TNI yang sedang melaksanakan Latihan Dalam Satuan yang terjadi pada tanggal 14 Desember 2025 sekitar pukul 15.40 WIB di PT. SRM Kabupaten Ketapang,” kata Eko dalam keteranganya, dikutip Selasa (16/12/2025).

Eko menerangkan, kronologi penyerangan itu terjadi saat empat prajurit tengah melaksanakan latihan dalam satuan di area milik PT. SRM, kemudian mendapat laporan dari satpam tentang adanya drone yang terbang di seputaran area latihan.

“Selanjutnya anggota melakukan pengejaran serta mendatangi lokasi orang yang mengopersional drone, ternyata drone tersebut dioperasionalkan empat orang WNA asal Beijing, China,” terangnya.

Eko menyebut, saat itu empat WNA yang kedapatan menerbangkan drone segera diamankan untuk diambil keterangan oleh petugas. Namun tiba-tiba muncul beberapa orang rekan dari WNA yang melakukan penyerangan.

“Namun tiba-tiba muncul 11 orang WNA lainnya melakukan penyerangan terhadap anggota dengan menggunakan Sajam (Parang), Airsoftgun dan satu alat setrum,” sebutnya.

Eko menjelaskan, saat itu empat prajurit yang dalam kondisi tidak berimbang akhirnya mengambil langkah taktis dengan menghindari eskalasi konflik dan bergerak kembali ke area perusahaan.

“Untuk mengamankan situasi dan melaporkan kejadian ini kepada Pimpinan. Motif penyerangan dan penerbangan drone ini masih didalami,” ujarnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: