Ketika Polisi Pulihkan Senyum Anak-anak Korban Bencana di Sumatera

Oleh: Bachtiarudin Alam
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:02 WIB
Petugas Kepolisian tengah memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana Sumatera. (Foto/Dokumentasi Polri)
Petugas Kepolisian tengah memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana Sumatera. (Foto/Dokumentasi Polri)

BeritaNasional.com - Di tengah situasi bencana yang masih menyisakan jejak kesedihan, tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Di sanalah personel Kepolisian menghadirkan secercah harapan lewat kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban bencana alam.

Tepat di Desa Huntara, Kelurahan Pasie Laweh, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, anggota Polda Sumbar menggelar program Polisi Mengajar yang merupakan salah satu bagian dari trauma healing.

Tak sekadar membawa perlengkapan SAR, mereka juga menghadirkan wahana flying fox mini. Alat yang biasanya digunakan dalam operasi penyelamatan itu kini disulap menjadi sarana bermain, menghadirkan sensasi kegembiraan sekaligus terapi pemulihan psikologis.

Anak-anak tampak antusias. Mereka ada yang ikut bermain, tapi ada juga memilih untuk belajar hingga bernyanyi bersama untuk menghilangkan rasa keresahan yang mereka alami akibat bencana alam.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Iptu Herman Agustinus Marini. Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali rumah atau infrastruktur, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak.

"Kami ingin menghadirkan rasa aman dan kebahagiaan, sehingga mereka dapat kembali ceria dan optimis menatap tahun yang baru," ujar Herman beberapa waktu lalu.

Aksi kemanusiaan ini mencerminkan kehadiran negara melalui Korps Bhayangkara, yang tidak hanya fokus pada penanganan darurat dan operasi SAR, tetapi juga memberi perhatian pada aspek pemulihan psikososial. 

Di tengah keterbatasan dan duka, sentuhan empati menjadi bagian penting dari proses bangkitnya masyarakat. Lebih dari 11.625 personel dikerahkan bukan sebagai penegak hukum, tetapi untuk memulihkan korban. 

“Sesuai arahan dari Bapak Presiden untuk memperkuat penanganan bencana, melaporkan bahwa kekuatan personel Polri yang saat ini sudah tergelar ada kurang lebih 11.625 personel terdiri dari 10.626 dari Satwil dan 999 BKO, terbagi di Polda Aceh 5.064 personel, di Polda Sumut 4.277 personel, dan di wilayah Sumbar 2.284 personel,” ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat jumpa pers Jumat (19/12/2025). 

Beragam Upaya Trauma Healing 

Dari sini, Polri pun menyadari jika pendampingan psikologis tidaklah kalah penting dari bantuan pokok dan lain-lain. Oleh sebab itu, pemulihan psikologis menjadi salah satu prioritas Polri dalam penanganan pascabencana.

“Polri tidak hanya hadir dalam penanganan fisik dan medis pascabencana, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap pemulihan psikologis, khususnya bagi anak-anak sebagai kelompok rentan,” kata Kabag Penum Div Humas Polri, Kombes Pol Erdi A. Chaniago kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).

Salah satu aksi nyata terlihat di Desa Huntara, Kelurahan Pasie Laweh, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di sana, anggota Polda Sumbar menggelar program Polisi Mengajar dan trauma healing. 

Petugas Kepolisian tengah memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana Sumatera. (Foto/Dokumentasi Polri)

Semua anggota membuat berbagai permainan mulai dari kelompok dan individu, seperti belajar bersama, dan bernyanyi, untuk menghalau rasa takut yang menghantui anak-anak pascabanjir bandang.

“Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berharap anak-anak dapat kembali pulih secara mental dan emosional,” ujar Erdi.

Hampir semua kegiatan trauma healing bisa memberikan dampak, tidak terkecuali bagi para pengungsi di Posko Desa Sriwijaya, Kotakuala Simpang, Aceh Tamiang. Di sana, tim memberikan layanan trauma healing kepada 350 orang pengungsi, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.

“Melalui pendekatan komunikasi yang humanis, konseling ringan, dan aktivitas bermain untuk anak-anak, tim membantu warga kembali merasa kuat, aman, dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang sedang mereka hadapi,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Joko Krisdiyanto.

“Anak-anak juga diajak bermain dan berinteraksi agar kembali ceria serta terbebas dari tekanan emosional akibat musibah,” sambungnya.

Pentingnya Trauma Healing

Di tengah hiruk-pikuk penanganan bencana, perhatian sering kali tertuju pada rumah yang roboh, jalan yang terputus, atau logistik yang harus segera disalurkan.

Namun di balik itu semua, ada luka lain yang tak kasatmata trauma psikologis yang dialami para korban, terutama anak-anak. Hal inilah yang menjadi sorotan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Choirul Anam.

Dari sekian banyak personel yang dikerahkan Polri serta besarnya jumlah pengungsi di wilayah terdampak bencana, Anam menilai dukungan trauma healing harus menjadi bagian penting dan terintegrasi dalam setiap operasi kemanusiaan.

Menurutnya, kebencanaan tidak semata soal kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan dampak psikologis yang membutuhkan penanganan serius.

“Karena kebencanaan itu tidak hanya soal kerusakan fisik, tapi juga ada aspek-aspek yang sifatnya psikologis yang dibutuhkan juga, apa, trauma healing,” kata Anam saat berbicara dengan BeritaNasional.com, Senin (12/1/2026).

Ia menegaskan, selain kebutuhan pangan, perbaikan infrastruktur, dan layanan kesehatan, kesehatan mental korban bencana harus mendapat porsi perhatian yang setara.

Trauma tidak hanya dialami anak-anak, sambung dia, tetapi juga orang dewasa yang kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga. Karena itu, kemampuan trauma healing di lingkungan kepolisian perlu dikelola dan dikoordinasikan secara lebih sistematis.

Indonesia, lanjut Anam, merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Hampir setiap tahun, berbagai wilayah menghadapi banjir, gempa bumi, longsor, hingga erupsi gunung api. Kondisi tersebut menuntut kesiapan aparat negara, termasuk Polri, tidak hanya dalam pemulihan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dalam pemulihan psikologis masyarakat.

“Yang dibutuhkan tidak hanya kesiapan pemulihan fisik, infrastruktur, tapi juga psikologi dan sebagainya. Karena tanpa ada pendekatan trauma healing, pemulihan tidak akan cepat selesai,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Anam menyarankan penguatan fungsi anggota Polri dalam memberikan layanan trauma healing secara lebih terstruktur. Menurutnya, pengalaman panjang kepolisian dalam menangani berbagai bencana seharusnya dapat dirumuskan menjadi pedoman baku.

Ia mendorong agar Baharkam Polri maupun Astama Ops Kapolri mulai menyusun konsep layanan trauma healing yang sistematis. Tidak menutup kemungkinan, pengalaman tersebut dirangkum dalam bentuk buku panduan, bahkan ditetapkan menjadi Peraturan Kapolri (Perkap) atau bagian dari satu operasi khusus yang terencana.

“Nah, itu penting. Pengalaman Kepolisian banyak, sehingga bisa dijadikan semacam buku panduan, bahkan bisa jadi Perkap, bisa jadi satu operasi yang sifatnya sistematis,” tuturnya.

Disisi lain, Psikolog Anak, Prof. Rose Mini Agoes Salim atau yang akrab disapa Bunda Romi menyatakan pentingnya trauma healing bagi para korban terdampak bencana. Agar para korban bisa kembali nyaman dengan situasi yang baru.

“Prosesnya memang berbeda beda tetapi intinya kita mencoba membuat orang tersebut lebih nyaman dalam situasi yang baru itu. Karena kalau tidak kita lakukan trauma healing bisa berdampak banyak terhadap kehidupannya,” kata Bunda Romi saat berbincang dengan BeritaNasional.com.

Bunda Romi mendukung langkah Polri dalam memberikan trauma healing yang telah berjalan kepada para korban bencana, khususnya di Sumatera. Dengan metode yang tepat untuk mengendalikan kondisi post trauma.

“Siapa pun yang melakukan bisa polisi itu harus mempelajari dulu orang yang kita hadapi pada level apa atau tahapan apa, sehingga bisa memberikan satu bentuk proses pemulihan yang pas terhadap pemulihan tersebut,” terangnya.

Salah satu cara yang tepat, lanjut Bunda Romi, adalah menjaga pikiran positif dari para korban. Sehingga mereka bisa berpikir tentang kehidupan, lewat kehadiran dukungan yang diberikan oleh anggota Polri.

“Secara umum yang bisa dilakukan adalah ada orang yang mendukung mereka orang yang memberikan support kepada mereka dan itu bisa dilakukan kepada siapapun juga termasuk polisi,” tuturnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: