Kemenperin Tegaskan Investasi Manufaktur Nasional Tetap Tumbuh dan Berkelanjutan
BeritaNasional.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa investasi di sektor industri manufaktur nasional masih menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal tersebut tercermin dari realisasi kapasitas produksi baru serta sejumlah indikator investasi riil lainnya.
Menanggapi keraguan sejumlah pihak terhadap keberlanjutan investasi manufaktur, Kemenperin menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan data faktual di lapangan. Berdasarkan data Kemenperin per 15 Januari 2026, sebanyak 1.236 perusahaan industri telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap memulai produksi perdana pada 2026.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, kehadiran ribuan perusahaan baru tersebut menjadi bukti konkret bahwa investasi manufaktur tidak hanya tumbuh, tetapi juga direalisasikan secara nyata di sektor riil. Investasi industri pada 2026 itu diperkirakan mampu menyerap sekitar 218 ribu tenaga kerja baru. Industri-industri tersebut berasal dari relokasi pabrik dari luar negeri, ekspansi usaha, maupun investasi baru, yang diharapkan berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) serta menambah PDB industri pengolahan nonmigas (IPNM).
“Masuknya investasi ke sektor industri tidak bisa dinilai hanya dari satu indikator sentimen. Fakta bahwa lebih dari seribu perusahaan industri siap beroperasi pada 2026 menunjukkan bahwa investasi manufaktur berjalan dan berkelanjutan,” ujar ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Febri menambahkan, anggapan bahwa investasi manufaktur tidak tumbuh justru bertentangan dengan data resmi pemerintah. Ia merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan impor barang modal pada 2025 tumbuh lebih dari 34,66 persen dibandingkan 2024.
Impor barang modal tersebut didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis yang berkaitan langsung dengan aktivitas investasi baru, perluasan kapasitas produksi, serta ekspansi industri. “Peningkatan signifikan impor barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanis, menjadi indikator kuat bahwa investasi manufaktur justru tumbuh pesat, terutama sepanjang 2025. Ini menunjukkan industri sedang melakukan ekspansi dan modernisasi kapasitas produksi,” tegas Febri.
Selain itu, realisasi produksi baru pada 2026 diperkirakan akan didukung oleh besarnya investasi di sektor industri pengolahan nonmigas, yang berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Kondisi ini dinilai mampu memperkuat struktur industri nasional sekaligus menjaga laju pertumbuhan industri manufaktur tetap di atas lima persen.
Kemenperin menilai indikator berbasis aktivitas riil, seperti jumlah perusahaan yang mulai berproduksi, realisasi investasi, dan impor barang modal, memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi investasi manufaktur dibandingkan indikator berbasis survei semata.
Ke depan, Kemenperin terus mendorong penguatan iklim investasi industri melalui kebijakan hilirisasi, pengembangan kawasan industri, transformasi industri 4.0, serta penguatan pasar domestik dan ekspor. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan investasi manufaktur tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Dengan berbagai kebijakan tersebut, kami optimistis investasi industri manufaktur akan terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Febri.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu






