Menteri PPPA Analisis Kasus Anak Bunuh Diri di NTT: Akumulasi Masalah dan Kurangnya Tempat Bercerita
BeritaNasional.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi memberikan tanggapan terkait kasus seorang anak yang mengakhiri hidupnya di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026), Arifatul mengungkapkan bahwa berdasarkan analisa sementara, kejadian tersebut merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang dihadapi korban.
Arifatul menyoroti adanya hambatan psikologis bagi anak laki-laki untuk mengungkapkan perasaan mereka akibat konstruksi budaya yang ada.
"Kalau menurut analisa kami, ini akumulasi ya, dari beberapa yang apa, persoalan yang dihadapi si anak. Tapi si anak ini mungkin tidak punya tempat untuk bercerita. Karena kan masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki enggak boleh cengeng, laki-laki enggak boleh nangis gitu ya," ujar Menteri Arifatul.
Minimnya Ruang Komunikasi
Menteri PPPA menambahkan bahwa meskipun proses analisa lebih mendalam masih akan terus dilakukan, pihaknya melihat ada kekosongan ruang bagi anak untuk menyampaikan keluh kesahnya.
"Ini mungkin menjadi, mungkin ya, kita belum analisa nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan. Tapi analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan," tambahnya.
Faktor Kemiskinan dan Peran Keluarga
Menanggapi isu mengenai keterbatasan ekonomi keluarga untuk membeli peralatan sekolah sebagai pemicu, Arifatul menjelaskan bahwa faktor kemiskinan memang menjadi salah satu akar masalah yang berdampak pada kualitas pendampingan anak.
Dalam kasus ini, status orang tua sebagai single parent yang harus bekerja sepanjang hari diduga membuat komunikasi antara orang tua dan anak tidak terjalin dengan baik.
"Ya, ini kan harus kolaborasi lintas sektor ya. Ini kan... mungkin penyebab utama adalah kemiskinan, sehingga orang tua tidak bisa mendampingi secara utuh. Orang tuanya single parent yang bekerja sepanjang hari, mungkin komunikasi juga tidak terjalin dengan baik," jelasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Solusi
Menutup keterangannya, Menteri Arifatul menekankan pentingnya sinergi antarinstansi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Masalah kemiskinan dan perlindungan anak tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
"Ini harus diselesaikan bersama-sama lintas sektor supaya sebagai antisipasi supaya ini tidak terjadi lagi. Cukup sekali dan terakhir gitu," tegasnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







