Pesan Mendalam Suhu Maha Bhiksu Dutavira Memaknai Imlek di Tahun Kuda Api

Oleh: Bachtiarudin Alam
Selasa, 17 Februari 2026 | 08:12 WIB
Suhu YM Maha Bhiksu Dutavira Stavira memberikan pesan pada perayaan Imlek 2026 dan Tahun Kuda Api. (BeritaNasional/Bachtiar)
Suhu YM Maha Bhiksu Dutavira Stavira memberikan pesan pada perayaan Imlek 2026 dan Tahun Kuda Api. (BeritaNasional/Bachtiar)

BeritaNasional.com - Ketua Umum Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Suhu YM Maha Bhiksu Dutavira Stavira menyampaikan pesan mendalam bagi masyarakat dalam memaknai perayaan Imlek pada Tahun Kuda Api 2026.

Menurutnya, di tahun ini manusia harus menjadi orang yang berguna dengan menambah nilai dan derajat. Bagaimana mengelola segala yang telah diberikan tuhan dengan bijaksana.

“Karena langit memberi, Tuhan memberi segala-galanya, bumi itu pasif cuma menerima. Ada yang padang pasir, ada yang seperti negara kita ini kepulauan dan sebagainya, tapi manusianya harus mampu mengolah,” kata Dutavira kepada wartawan di Vihara Avalokitesvara Jakarta, dikutip Selasa (17/2/2026).

Dia pun mencontohkan, manusia yang dapat mengelola dengan baik apa yang telah diberikan Tuhan, seperti bangsa Singapura dan Jepang yang maju berkat memaksimalkan kemampuan diri, tidak sekedar teori tapi langkah nyata.

“Maka saya sangat mengharap tahun Kuda Api ini anak bangsa yang cerdas, yang ada kesempatan, punya hati untuk bangsa. Sehingga dengan demikian saya percaya pemberian Yang Maha Kuasa yang hebat ini, nggak mungkin rupiah kita begini. Karena hidup itu nyata, bukan cerita. Makanya harus berbuat nyata juga,” terangnya.

Makna Tiga Rangkaian Imlek

Di sisi lain, Dutavira juga menjelaskan rangkaian Imlek sudah digelar sejak seminggu lalu. Diawali Tao Suo kegiatan membersihkan rumah dan tempat ibadah sebagai bagian memberi hormat kepada leluhur.

“Semua percaya setiap orang kehendak Tuhan ada DNA-nya, ada garis keturunan. Sebab itulah orang Tionghoa memberi hormat kepada leluhur. Bahkan di depan leluhur, bangkitkan tekad supaya menjadi lebih baik, tidak memalukan keluarga,” tuturnya.

Aktivitas kedua, Dutavira menyampaikan tentang budaya kumpul keluarga menyantap makan bersama. Hal ini sebagai gambaran memberi ruang untuk keluarga bisa saling membantu dan memberikan kesempatan.

“Yang kuat itu memberi kesempatan keluarganya yang masih muda-muda, ya semoga aja dapat beasiswa dan sebagainya. Itu nilai arti kedua dari Imlek. Karena Tuhan memberi, manusia mesti bisa mengolah,” ujarnya.

Selanjutnya, Dutavira meluruskan pemahaman tentang budaya angpao atau memberi hadiah yang sangat kental saat perayaan Imlek. Budaya itu dimaksudkan untuk mendoakan bagi penerima angpao sebuah keberuntungan.

“Intinya, kalau kita lihat dari budaya orang Tionghoa, ucapin Gong Xi itu mengharap orang lain beruntung. Nggak ada bilang "Gong Xi aku", nggak ada. Supaya aku yang beruntung, egois dong,” jelasnya.

“Itu budaya Tionghoa menganjurkan kita mempunyai motivasi dari roh kita ini mengharap orang-orang yang kita kenal, apalagi yang saudara, supaya lebih beruntung,” tambah dia.

Namun, dari keseluruhan nilai dalam memaknai Imlek, bukan sekedar merayakan musim semi. Tetapi, bagaimana memberitahu ilmu orang Tionghoa menciptakan huruf angka langit dan bumi, 24 musim dalam satu tahun yang bisa kapanpun berubah.

 “Bagaimana kita menulis tinta perubahan itu untuk arah yang lebih baik. Atau mudah dikatakan, ya tolong berpikir deh bagaimana lebih baik lagi. Itu sebenarnya budaya Imlek,” tegasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: