Bermaafan saat Hari Raya Idul Fitri Tradisi atau Kewajiban? Begini Penjelasannya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Kamis, 19 Maret 2026 | 07:04 WIB
Sejumlah warga menikmati suasana di sekitar aneka lampu hias pada Jakarta Light Festival 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Sejumlah warga menikmati suasana di sekitar aneka lampu hias pada Jakarta Light Festival 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Umat muslim di Indonesia biasanya menggunakan momentum hari raya Idul Fitri untuk bermaaf-maafan. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan hawa nafsu dan pengendalian diri, tidak afdol rasanya ibadah kita bila belum mengakui salah dan menerima maaf juga memaafkan.

Namun apakah bermaafan saat Idul Fitri diwajibkan dalam Islam ataukah hanya sekadar tradisi?

Pertanyaan ini muncul karena sebagian orang beranggapan bahwa dalam Al-Qur’an dan hadis nabi Muhammad saw tidak ada anjuran bermaaf-maafan dan bersalam-salaman secara khusus di hari raya.

Dalil anjuran bermaaf-maafan di hari raya secara spesifik dalam Al-Qur’an dan hadis, mungkin itu tidak akan ditemukan. Namun bukan berarti tradisi tersebut menyalahi ajaran Islam. Sebab, dalam Al-Qur’an dan hadis banyak ditemukan ayat yang menunjukkan anjuran bermaaf-maafan di antara masyarakat, termasuk antara nabi Muhammad SAW serta para sahabat.

Setidaknya ada lima ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan bermaaf-maafan. Surah tersebut antara lain Surah Al-Baqarah [2] ayat 109, Surah Ali Imran [3] ayat 134 dan 159, surah Al-Maidah [5] ayat 13 dan surah Yusuf [12] ayat 92. 

Secara umum, ayat-ayat ini berbicara mengenai anjuran bermaaf-maafan, memaafkan adalah sarana kesabaran, dan pemaaf adalah sifat orang bertakwa.

Firman Allah SWT

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran [3] ayat 159).

Secara umum, surah Ali Imran [3] ayat 159 berisi tentang tuntunan Allah Swt kepada nabi Muhammad saw untuk 1) bersikap lemah lembut kepada kaum muslimin khususnya mereka yang pernah melakukan kesalahan dan pelanggaran; 2) memaafkan kesalahan mereka; 3) memintakan ampunan kepada mereka; 4) bermusyawarah ketika memutuskan suatu perkara; 5) dan senantiasa bertawakal kepada Allah.

Menurut Quarsih Shihab, ayat ini seakan berkata, “Sesungguhnya perangaimu wahai Muhammad, adalah perangai yang luhur, engkau tidak bersikap kasar dan tidak pula berhati kasar, engkau pemaaf, dan bersedia menerima saran dari orang lain. Itu semua disebabkan karena rahmat Allah kepadamu yang telah mendidikmu, bukan karena faktor-faktor lain seperti konstruksi sosial.”


Anjuran bermaafan juga dapat ditemukan dalam hadis. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, 

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan” (HR Ath- Thabrani). 

Hadis ini menunjukkan Islam mengajarkan pemeluknya untuk bermaaf-maafan jika terjadi kesalahan atau pelanggaran, bukan saling membalas mendendam. (NU online)


 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: