Perkuat Ketahanan Pangan, Australia Impor 250 Ribu Ton Pupuk Urea dari Indonesia
BeritaNasional.com - Pemerintah Australia resmi menjalin kerja sama strategis dengan Indonesia untuk mengamankan pasokan pupuk nasional.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan Australia akan mengimpor 250 ribu ton pupuk urea dari Indonesia guna mendukung sektor pertanian.
Kesepakatan ini melibatkan perusahaan pemasok Australia Incitec Pivot Fertilizers dan produsen pupuk pelat merah Indonesia PT Pupuk Indonesia.
Pasokan dari tanah air ini diproyeksikan mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan pupuk Australia untuk musim tanam kali ini.
Dalam pernyataan bersamanya dengan Menteri Luar Negeri Penny Wong dan Menteri Pertanian Julie Collins, PM Albanese menekankan betapa krusialnya kesepakatan ini bagi stabilitas pangan negaranya.
"Ini adalah hasil yang signifikan bagi para petani kita. Kami memahami betapa pentingnya pupuk bagi petani Australia, bagi sistem produksi pangan kita, dan ketahanan pangan di wilayah kita," ujar Albanese yang dikutip dari Xinhua News pada Jumat (17/4/2026).
Langkah ini diambil sebagai respons atas gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, Menteri Pertanian Julie Collins telah mengumumkan upaya penyederhanaan proses impor pupuk demi mengatasi kelangkaan.
Data menunjukkan bahwa sebelum konflik pecah, sekitar 60 persen impor pupuk urea Australia harus melewati Selat Hormuz, jalur yang kini menjadi sangat berisiko.
Collins pun mengapresiasi kerja sama erat antara pemerintah Australia dan Indonesia dalam memfasilitasi kesepakatan dagang ini.
"Ini berarti Australia dapat terus memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan pangan di Indonesia dan kawasan kita di tengah ketidakpastian global," kata Collins.
Sumber: Xinhua News
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







