Angka Tuberkulosis Masih Tinggi, Pemerintah Dorong Penguatan Regulasi dan Percepatan Inovasi Kesehatan

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Selasa, 21 April 2026 | 12:32 WIB
Ilustrasi penderita TBC. (Foto/Freepik)
Ilustrasi penderita TBC. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com -  Angka penderita tuberkulosis di Indonesia masih tinggi. Berdasar Kementerian Keseharta sekitar 867 ribu kasus terdiagnosis dalam satu tahun terakhir. Dengan demikian perlu dilakukan penguatan regulasi, percepatan inovasi kesehatan, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri, salah satunya Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta mengatakan perubahan harga IGRA  akan sangat berpengaruh dalam upaya mendeteksi lebih cepat.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,”ujarnya.

Ia menekankan pentingnya efisiensi dalam pengembangan teknologi kesehatan, khususnya pada aspek diagnostik, termasuk IGRA atau tes darah untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis. Dia juga menekankan pentingnya pengawalan lintas sektor terhadap inovasi yang tengah dikembangkan.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” tegasnya.

Dia juga menyoroti proses BPOM yang dinilai semakin cepat dan responsif. Hal senada diutarakan perwakilan industri, termasuk Biofarma, yang menyampaikan  proses yang sebelumnya sempat mengalami kendala kini berjalan lebih lancar.

Selain itu, BPOM juga mendorong pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional melalui pendekatan riset dan hilirisasi.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan potensi bahan alam Indonesia masih sangat besar dan dapat terus dikembangkan.

"Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri," terangnya.

Peningkatan nilai tambah menjadi kunci dalam penguatan industri farmasi nasional, seiring besarnya potensi ekonomi bahan alam Indonesia yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya..

Dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan di dunia, katanya, sekitar 31.000 di antaranya terdapat di Indonesia dan berpotensi sebagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal. (Antara)sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: