Inggris Ungkap 100 Negara Punya Alat Peretas Ponsel Canggih

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 22 April 2026 | 23:16 WIB
Ilustrasi Hacker. (Foto/Freepik)
Ilustrasi Hacker. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Ancaman privasi digital global memasuki level yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari Badan Intelijen Inggris mengungkapkan lebih dari separuh pemerintahan di dunia memiliki akses ke perangkat lunak mata-mata (spyware) komersial. 

Alat canggih ini mampu membobol komputer dan ponsel pintar untuk mencuri informasi paling sensitif.

Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) Inggris mencatat lonjakan tajam jumlah negara yang memiliki teknologi ini. Pada tahun 2023, diperkirakan hanya ada 80 negara. Kini, jumlahnya membengkak menjadi 100 negara pada 2026.

Perangkat lunak seperti Pegasus buatan NSO Group atau Graphite milik Paragon bekerja dengan memanfaatkan celah keamanan pada sistem operasi ponsel. 

Meski pemerintah penggunanya sering berdalih alat ini hanya untuk memburu teroris, kenyataan di lapangan berkata lain.

Para aktivis hak asasi manusia dan peneliti keamanan memperingatkan adanya penyalahgunaan besar-besaran. 

Targetnya kini tidak lagi terbatas pada musuh politik atau jurnalis, tetapi telah meluas ke sektor bisnis. Intelijen Inggris menyebut para bankir dan pengusaha kaya kini ikut menjadi sasaran empuk pemantauan ilegal tersebut.

Di konferensi CYBERUK di Glasgow, Direktur NCSC Richard Horne melontarkan kritik pedas kepada korporasi di Inggris. Menurut dia, banyak perusahaan masih gagal memahami realitas dunia saat ini yang sangat berbahaya.

Horne menegaskan sebagian besar serangan siber skala nasional yang menghantam Inggris berasal dari intervensi pemerintah asing, bukan sekadar geng kriminal biasa. 

Salah satu kekhawatiran utama adalah aktivitas peretasan yang dikaitkan dengan Tiongkok. Serangan ini diduga bertujuan mencuri data sensitif serta mempersiapkan gangguan infrastruktur guna menghambat respons militer Barat di masa depan.

Ancaman semakin nyata ketika teknologi canggih ini jatuh ke tangan yang salah. Awal tahun ini, perangkat peretas bernama DarkSword yang mampu membobol iPhone dan iPad versi terbaru bocor ke publik. 

Kebocoran ini memungkinkan siapa saja untuk membuat situs web berbahaya yang mampu meretas perangkat Apple yang belum diperbarui sistem operasinya.

Peristiwa bocornya DarkSword menjadi bukti bahwa alat peretas yang dijaga ketat oleh pemerintah sekalipun bisa menyebar tanpa kendali. 

Hal ini berpotensi membahayakan jutaan pengguna ponsel di seluruh dunia, karena senjata siber yang awalnya dibuat untuk intelijen kini bisa digunakan oleh siapa pun dengan motif kejahatan.

Sumber: TechCrunchsinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: