Timur Tengah Kembali Memanas, Sekjen PBB Ingatkan Semua Pihak Patuhi Gencatan Senjata

Oleh: Kiswondari
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:29 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto/un.org)
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto/un.org)

BeritaNasional.com - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan atas memburuknya situasi di Timur Tengah dengan cepat, ia pun memperingatkan bahwa situasi ini dapat memicu kembali perang terbuka di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia pun mengingatkan semua pihak mematuhi gencatan senjata.

“Timur Tengah semakin terjerumus ke dalam krisis, dan konsekuensinya meluas jauh melampaui kawasan tersebut,” kata Guterres dalam sesi Dewan Keamanan PBB tentang mediasi dan dialog di Timur Tengah, Rabu (10/6/2026), yang dilansir dari Viory, Kamis (11/6/2026).

“Minggu ini telah membawa serangan yang lebih luas dan memburuknya situasi lebih lanjut. Saya sangat prihatin bahwa hal itu dapat memicu dimulainya kembali konflik sepenuhnya,” tambahnya.

Guterres pun memperingatkan bahwa ketidakstabilan yang berkelanjutan dapat berdampak secara global, yang memengaruhi ekonomi dunia, rantai pasokan, dan harga pangan.

Terkait situasi di Lebanon, Guterres mengatakan, beberapa bulan terakhir telah menyaksikan peningkatan yang serius, dengan Israel mengintensifkan operasi militer di wilayah Lebanon sementara Hizbullah memperluas serangan lebih dalam ke Israel.

Guterres pun menyerukan kepada semua pihak untuk mencari solusi diplomatik berdasarkan penghormatan terhadap kedaulatan Lebanon dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan.

“Saya mengimbau semua pihak untuk melaksanakan perjanjian gencatan senjata. Tidak ada lagi serangan. Tidak ada lagi alasan,” imbaunya.

Hal ini disampaikan pemimpin tertinggi PBB usai Amerika Serikat mengumumkan telah melakukan serangan semalam terhadap sistem pertahanan udara Iran, instalasi radar, dan pos komando di dekat Selat Hormuz, menggunakan jet tempur dan amunisi berpemandu presisi.

Washington mengatakan, operasi tersebut dilakukan untuk membela diri setelah jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS.

Merespons AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah melancarkan “serangan berat” terhadap pangkalan udara dan angkatan laut AS di wilayah tersebut, menggambarkan operasi tersebut sebagai pembalasan atas apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika terhadap target di Iran selatan.

Aksi saling serang terjadi usai serangan terbaru antara Israel dan Iran pada hari Minggu, yang pertama sejak gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada bulan April. Kedua pihak kemudian sepakat untuk menghentikan serangan pada hari Senin.

Sumber: Viorysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: