Hydration Break Piala Dunia 2026, Antara Kesehatan Pemain dan Ritme Pertandingan
BeritaNasional.com - FIFA memperkenalkan aturan jeda minum (hydration break) wajib pada setiap pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah menjaga kondisi fisik pemain di tengah cuaca musim panas Amerika Utara.
Berdasarkan aturan baru tersebut, pertandingan akan dihentikan selama tiga menit pada sekitar menit ke-22 babak pertama dan menit ke-67 babak kedua. Berbeda dengan kebijakan sebelumnya, jeda minum (hydration break) kali ini berlaku untuk seluruh pertandingan tanpa mempertimbangkan suhu atau kondisi cuaca di stadion.
FIFA menerapkan aturan tersebut setelah mengevaluasi dampak cuaca panas ekstrem yang terjadi pada Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat. Pengalaman dari turnamen itu mendorong badan sepak bola dunia tersebut untuk membuat mekanisme hidrasi yang lebih terstruktur bagi para pemain.
"Untuk setiap pertandingan, di mana pun pertandingan dimainkan, terlepas dari apakah ada atap atau suhu, akan ada jeda minum selama tiga menit," kata Kepala Panitia Turnamen Piala Dunia 2026, Manolo Zubiria dikutip dari ESPN, Kamis (17/6/2026).
"Jeda akan berlangsung tiga menit dari awal hingga akhir babak. Tentu saja, jika terjadi penghentian pertandingan karena cedera pada menit ke-20 atau ke-21 dan masih berlangsung, hal ini akan ditangani langsung oleh wasit," tambahnya.
Meski ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan pemain, kebijakan tersebut memunculkan sejumlah kritik. Sebagian pihak menilai jeda minum (hydration break) hanya diperlukan ketika pertandingan berlangsung dalam kondisi cuaca yang benar-benar ekstrem.
Pelatih tim nasional Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, termasuk salah satu sosok yang mempertanyakan penerapan aturan tersebut secara menyeluruh.
"Saya tidak menyukainya; saya hanya menyukainya ketika kondisinya ekstrem," kata Pochettino. "Tetapi ketika kondisinya bagus, itu tidak perlu."
Pandangan yang lebih moderat disampaikan pelatih Spanyol, Luis de la Fuente. Menurutnya, jeda minum (hydration break) memiliki manfaat dari sisi kesehatan pemain, terutama saat cuaca panas dan tingkat kelembapan tinggi.
"Saya melihatnya dari segi kesehatan para pemain," katanya. "Dalam kondisi ekstrem, istirahat untuk menyegarkan diri adalah hal yang tepat. Memang benar bahwa besok dengan suhu yang akan ada [di dalam stadion], mungkin itu tidak perlu. Tetapi kita semua telah melihat suhu di Chattanooga [markas latihan Spanyol], kelembapannya. Istirahat seperti itu memungkinkan Anda untuk mendapatkan kembali energi."
Gelandang Spanyol Mikel Merino juga menilai aturan tersebut memiliki dua sisi. Di satu sisi membantu pemulihan fisik pemain, namun di sisi lain dapat memengaruhi ritme pertandingan.
"Akan ada pertandingan di mana istirahat diperlukan, dan ada pula pertandingan di mana istirahat sama sekali tidak diperlukan. Saat cuaca panas, agar para pemain dan permainan mereka berada dalam versi terbaiknya, istirahat sejenak untuk memulihkan kekuatan agar bisa bermain lagi sangatlah baik," kata Merino.
"Tetapi di banyak stadion yang tertutup dan tidak terlalu panas, pertandingan berhenti dan itu tidak baik bagi para penggemar, permainan menjadi lebih lambat dan lebih mudah diprediksi. Hal ini berdampak besar, para pelatih dapat menyesuaikan berbagai hal dan mengubah dinamika permainan. Kita harus beradaptasi dengan baik terhadap hal itu," lanjutnya.
Selain alasan teknis pertandingan, penerapan jeda minum (hydration break) juga membuat pertandingan secara tidak langsung terbagi menjadi empat fase permainan, mirip dengan format yang umum digunakan dalam olahraga Amerika seperti NBA dan NFL. Kondisi tersebut dinilai memberi kesempatan lebih besar bagi pelatih untuk melakukan instruksi taktik di tengah pertandingan.
Meski menuai perdebatan, sejumlah pakar medis mendukung kebijakan FIFA. Serikat pemain dunia FIFPRO sebelumnya mengungkapkan bahwa tiga pertandingan pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu seharusnya ditunda karena tingkat panas yang melebihi batas aman berdasarkan pengukuran Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
Profesor Mehmet Karabulut dari Medicana Health Group menegaskan bahwa jeda minum (hydration break) memiliki dasar medis yang kuat mengingat tuntutan fisik sepak bola modern yang semakin tinggi.
"Aturan baru ini harus dilihat terutama sebagai langkah keamanan medis," kata Karabulut.
"Saat ini, permainan sepak bola jauh lebih cepat dan membutuhkan upaya fisik yang luar biasa; pemain menempuh jarak yang sangat jauh di lapangan dan sering terlibat dalam upaya intensitas tinggi."
Ia menjelaskan bahwa kehilangan cairan dalam jumlah besar akibat keringat dapat mengganggu kemampuan tubuh mengatur suhu, terutama saat bermain dalam kondisi panas dan lembap.
"Dalam kondisi seperti itu, mudah kehilangan banyak cairan melalui keringat, sehingga sulit mengatur suhu tubuh, terutama dalam cuaca hangat dan lembap. Istirahat yang terencana untuk mengonsumsi cairan dan mendinginkan tubuh akan memungkinkan pemain untuk kembali ke lapangan dalam kondisi optimal dan mencegah kemungkinan risiko kesehatan sebelum kelelahan muncul," ujarnya.
Karabulut menambahkan bahwa jeda minum (hydration break) hanyalah salah satu bagian dari sistem perlindungan pemain yang lebih luas.
"Jeda ini saja bukanlah kebijakan keselamatan pemain yang lengkap. Waktu kick-off, periode pemulihan, area pendinginan, protokol medis darurat, dan rencana aklimatisasi juga sangat penting. Jeda untuk hidrasi adalah salah satu lapisan penting dalam sistem kesejahteraan yang jauh lebih besar, dan dalam kasus Piala Dunia di musim panas di Amerika Utara, argumen medisnya sangat kuat," tuturnya.
Dengan cuaca panas yang masih menjadi tantangan selama Piala Dunia 2026, kebijakan jeda minum (hydration break) diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu yang paling banyak dibahas sepanjang turnamen berlangsung.
Sumber: ESPN
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 21 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu







