Pupuk Organik Cair Dorong Produktivitas Padi di Situbondo

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:30 WIB
Ilustrasi produktivitas padi (Foto/Pixabay)
Ilustrasi produktivitas padi (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur optimistis produktivitas padi tembus 500.000 ton gabah kering panen (GKP) dari target sekitar 321.000 ton GKP tahun ini.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pemanfaatan limbah rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayur dan lainnya dilaksanakan oleh komunitas peduli sampah yang juga petani.

"Kita lihat bersama panen padi yang menjadi percontohan menggunakan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga, dan hasil ubinan produksi padi mampu mencapai 9,1 ton gabah per hektare. Ini luar biasa bila dibandingkan sebelumnya 7,3 ton gabah per hektare," kata Bupati Rio.

Rio juga mengapresiasi komunitas peduli sampah Situbondo yang selalu melakukan inovasi membuat pupuk organik cair limbah rumah tangga dan berhasil meningkatkan produktivitas tanaman padi.

Ia juga mendorong inovasi pengolahan limbah rumah tangga jadi pupuk organik cair. Hal ini merupakan inovasi yang baik dan perlu ditiru oleh petani di kecamatan lainnya. Pupuk organik cair ini sangat bermanfaat, selain meningkatkan hasil panen padi, juga menekan biaya produksi.

Ia juga meminta kepada komunitas peduli sampah di Kecamatan Situbondo itu untuk segera melengkapi izinnya agar bisa lebih luas menjangkau pasar, sehingga memberikan manfaat kepada petani lainnya.

"Segera lengkapi izinnya, kolaborasi dengan komunitas lainnya, misalnya komunitas kampus. Pupuk organik ini terbukti membuat produksi padi naik dari 7,3 ton gabah menjadi 9,1 ton gabah per hektare," katanya.

Petani Situbondo Purwanto mengatakan, ia akan terus melakukan inovasi pupuk organik cair dari limbah rumah tangga tersebut.

"Semula kami uji coba dari hasil produksi padi 6 ton per hektare dan sampai saat ini bisa mencapai 9,1 ton per hektare, dan saat ini kami akan coba lagi sampai produksi padi mencapai 12 ton per hektare," ujarnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: