4.000 Buruh Sepatu Nike Dirumahkan, DPR Dorong Jaring Pengaman Pekerja Dioptimalkan
BeritaNasional.com - Wakil Ketua Komis IX DPR Yahya Zaini menyoroti 4.000 pekerja pabrik yang kini dirumahkan. Ribuan pekerja tersebut merupakan buruh pabrik sepatu olahraga Nike di Kabupaten Bandung Jawa Barat. Kejadian ini tidak boleh hanya dinilai sebagai persoalan hubungan industrial semata. Ia pun mendorong pemerintah untuk melakukan memitigasi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Fenomena 4.000 buruh yang dirumahkan harus menjadi alarm dini untuk memperkuat sistem perlindungan tenaga kerja. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pekerja Indonesia masih sangat rentan terhadap perubahan strategi bisnis global dan fluktuasi permintaan pasar internasional,” tuturnya.
Dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/6/2026) ia menerangkan struktur industri padat karya yang berorientasi ekspor pekerja sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika terjadi penurunan pesanan atau perubahan rantai pasok global.
“Karena itu, perhatian Pemerintah tidak cukup hanya tertuju pada penyelesaian status hubungan kerja, tetapi juga pada perlindungan keberlangsungan hidup pekerja dan keluarganya selama masa ketidakpastian tersebut,” terangnya.
“Walaupun saat ini baru berupa potensi PHK, pemerintah perlu menyiapkan mitigasi sebagai langkah antisipasi,” imbuhnya.
Menurutnya pemerintah memiliki jaring pengaman sosial bagi pekerja yang terkena PHK berupa program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang dibayar oleh pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan berupa bantuan uang tunai selama 6 bulan.
Pekerja yang kehilangan pekerjaannya juga mendapat bantuan pelatihan upskilling serta mendapat informasi peluang kerja yang baru.
“Tentunya jaring pengaman sosial bagi pekerja yang dirumahkan harus dioptimalkan karena mereka kini tidak memiliki penghasilan yang pasti. Sementara untuk program reskilling, upskilling, serta penempatan kembali tenaga kerja, kita harap Pemerintah bisa mengarahkan pada sektor-sektor yang masih tumbuh,” sambungnya.
Menurut Yahya, dalam situasi ekonomi yang semakin dinamis, perlindungan pekerja tidak lagi cukup hanya berbentuk kompensasi setelah kehilangan pekerjaan, tetapi juga kemampuan negara membantu pekerja beradaptasi terhadap perubahan pasar kerja.
“Sistem perlindungan tenaga kerja perlu bergerak lebih antisipatif. Ketika perusahaan mulai mengalami tekanan produksi, pemerintah harus memiliki mekanisme peringatan dini yang memungkinkan langkah mitigasi dilakukan sebelum gelombang perumahan pekerja meluas,” tegasnya.
Selain itu integrasi data ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan, kawasan industri, dan pemerintah daerah perlu diperkuat agar potensi gangguan terhadap tenaga kerja dapat dipetakan lebih cepat.
“Kasus ini menjadi pengingat bahwa ketahanan tenaga kerja nasional tidak hanya ditentukan oleh penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga oleh kemampuan sistem ketenagakerjaan melindungi pekerja ketika menghadapi guncangan ekonomi,” terangnya.
Yahya juga menilai, pemerintah perlu mempercepat transformasi sektor manufaktur melalui penguatan industri pendukung, peningkatan produktivitas tenaga kerja, kemudahan logistik, serta percepatan adopsi teknologi produksi.
“Jika tidak, Indonesia berisiko terus berada pada posisi rentan terhadap keputusan bisnis yang dibuat jauh di luar negeri tetapi berdampak langsung terhadap pekerja di dalam negeri,” sebutnya.
Sebagai informasi, PT Feng Tay yang merupakan pabrik produsen sepatu Nike di Kabupaten Bandung saat ini merumahkan 4.000 pekerjanya. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, mengungkapkan langkah perusahaan tersebut menjadi alarm keras potensi PHK massal.
Adapun PT Feng Tay merumahkan 4.000 pekerjanya lantaran belum ada kepastian lagi mengenai kelanjutan pesanan produksi sepatu Nike. Selain faktor berakhirnya pesanan, adanya keterlambatan pasokan bahan baku untuk produksi sepatu disebut juga menjadi faktor lain perusahaan merumahkan pekerjanya.
Sebab selama ini bahan baku produksi PT Feng Tay umumnya dipasok langsung oleh Nike. Namun, situasi geopolitik yang dipicu konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel diduga memengaruhi rantai pasok global sehingga Nike mengalihkan pemasok bahan bakunya kepada vendor lain.
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
BUDAYA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu







