Kuasai 40 Persen Pasar Ekonomi Digital ASEAN, Indonesia Diminta Perkuat Ekosistem Nasional

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 24 Juni 2026 | 17:30 WIB
Ilustrasi ekonomi digital. (Foto/Magnific)
Ilustrasi ekonomi digital. (Foto/Magnific)

BeritaNasional.com - Indonesia saat ini diklaim merajai ekonomi digital dengan menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar di Asia Tenggara.

Bahkan, nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan bakal meroket hingga menyentuh angka USD360 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Meski memiliki pasar yang sangat menggiurkan, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan modal besar ini tidak serta-merta membuat Indonesia otomatis menjadi raksasa teknologi global. 

Menurut dia, masa depan digital Indonesia sangat bergantung pada kekompakan seluruh pemangku kepentingan dalam merajut ekosistem yang solid, mulai infrastruktur, talenta, industri, hingga inovasi.

“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, seperti sudah disampaikan oleh Ibu Menteri tadi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional,” ujar Wamen Nezar melalui siaran persnya yang dikutip pada Selasa (23/06/2026).

Nezar menegaskan langkah kaki yang diayunkan hari ini merupakan bagian krusial dari strategi besar Indonesia Digital 2045 demi mewujudkan kemandirian teknologi tepat di usia satu abad kemerdekaan nanti.

“Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting yang harus sama-sama kita internalisasi dan bagaimana kita eksekusi,” tuturnya.

Guna mempercepat lompatan digital ini, Indonesia dinilai perlu memetik pelajaran dari negara-negara yang sudah sukses membangun fondasi lewat Infrastruktur Publik Digital (Digital Public Infrastructure). Salah satu kiblat yang dinilai sangat cocok adalah India, yang sukses mengintegrasikan sistem identitas dan pembayaran digital secara masif.

“Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya,” ungkapnya.

Sistem inklusif seperti Unified Payment Interface (UPI) dan Aadhaar di India terbukti ampuh menjadi motor penggerak layanan keuangan (financial services), memperluas jangkauan layanan ke masyarakat, sekaligus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

Bukan hanya memperkuat urusan dalam negeri, Indonesia juga dituntut untuk mulai menembus rantai pasok global (global supply chain), khususnya dalam penguasaan teknologi mutakhir seperti kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

“Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga untuk diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global. Saya kira ini yang paling penting, global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence,” tegasnya.

Saat ini, posisi Indonesia dinilai masih berada di tahap awal dalam pengembangan AI dan belum memegang peran strategis di kancah global. Oleh sebab itu, Nezar menekankan agar pembangunan ekosistem digital nasional memiliki kompas yang jelas supaya Indonesia tidak sekadar menjadi pasar atau pengguna pasif, melainkan mampu menciptakan nilai tambah sendiri.

“Komitmen kita untuk membangun satu ekosistem digital nasional harus punya tujuan strategis nasional yang sama-sama kita pegang sebagai north star ke mana kita menuju,” imbuhnya.

Kunci Ada di Kolaborasi Nyata

Berdasarkan data makro, potensi ekonomi digital Indonesia diprediksi menyentuh USD105 miliar pada 2025 sebelum nantinya melesat ke kisaran USD260 miliar hingga USD360 miliar. Posisi Indonesia sebagai motor utama ASEAN pun sangat krusial.

“Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kalau kawasan ASEAN bertumbuh 1 triliun USD, kita menyumbang USD365 miliar. Saya kira kita punya share yang cukup besar dari pertumbuhan ekonomi digital di kawasan. Dan itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita buat di dalam ekosistem digital ini,” tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: