AS Kembali Serang Iran usai Teken Perjanjian Damai, Apa Penyebabnya?
BeritaNasional.com - Meskipun kedua negara telah menandatangani perjanjian pendahuluan perdamaian pada 17 Juni lalu, Amerika Serikat (AS) kembali melakukan serangan udara ke wilayah Iran, dengan alasan bahwa Iran melakukan pelanggaran atas perjanjian tersebut.
Melansir Russian Today (RT), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, pesawat mereka menyerang lokasi rudal, fasilitas penyimpanan drone, dan instalasi radar Iran pada Jumat (26/6/2926) sebagai tanggapan atas serangan drone Iran terhadap kapal komersial berbendera Singapura M/V Ever Lovely di Selat Hormuz sehari sebelumnya.
“Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan di akun X mereka.
Sementara itu, Media Iran, IRIB melaporkan bahwa ledakan terdengar di Pulau Sirik, provinsi Hormozgan selatan. Sebuah sumber mengatakan bahwa dua proyektil menghantam menara telekomunikasi di dekat Sirik.
Sumber militer Iran menyebut bahwa tembakan peringatan telah dilepaskan beberapa jam sebelumnya ke arah sumber tersebut, yang mereka sebut sebagai "kapal-kapal yang melanggar aturan" di Selat Hormuz.
Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyalahkan Iran karena melakukan serangan drone terhadap kapal kargo di Selat Hormuz, dan menyebutnya sebagai "pelanggaran bodoh".
Meskipun pihak Iran belum mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal Ever Lovely, negara itu menegaskan bahwa hanya Iran dan Oman yang dapat "menentukan administrasi dan layanan maritim di masa depan" pada jalur perairan strategis tersebut.
“Keamanan perjalanan melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute paralel, atau pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan peran Iran sebagai negara pantai,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi melalui X.
Pecahnya serangan ini terjadi pada momen yang sangat krusial, karena AS dan Iran tengah membahas implementasi nota kesepahaman yang diteken pekan lalu. Kedua pihak juga telah menunjukkan penafsiran yang saling bertentangan dengan perjanjian tersebut, berselisih tentang pengelolaan Selat Hormuz, nasib persediaan uranium yang diperkaya Iran, dan operasi militer Israel di Lebanon.
Sumber: Russian Today
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







