1 Juta Ton Tetes Tebu Berpeluang Dipakai untuk Pengembangan Bioetanol

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Senin, 27 Juli 2026 | 05:30 WIB
Ilustrasi tebu menghasilkan tetes tebu (Foto/Freepik)
Ilustrasi tebu menghasilkan tetes tebu (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Pakar Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan, terdapat satu juta ton tetes tebu atau molase yang berpeluang untuk digunakan dalam pengembangan bioetanol.

“Total produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru diserap itu 900 ribu ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai,” ujar Eliza.

Namun, kata dia, pasokan tetes tebu kebanyakan berasal dari luar Pulau Jawa, sedangkan pengolahannya berlokasi di Pulau Jawa. Masalah ini menimbulkan biaya logistik dalam prosesnya.

Eliza juga menyoroti kemampuan nasional dalam memproduksi fuel grade ethanol (FGE) atau etanol dengan kadar di atas 99 persen yang layak dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM).

“Realitas produksi domestik itu cuma sekitar 26 ribu kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo,” kata Eliza.

Total kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional itu mencapai 303 ribu KL dengan utilitas aktual berkisar di angka 172 ribu KL.

“Sebagian besar masih dialokasikan untuk keperluan industri non-BBM seperti kosmetik, farmasi, pangan,” kata Eliza.

Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan keterbatasan suplai bahan baku dan infrastruktur industri yang belum siap mendukung skala mandatori campuran dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, guna menerapkan kebijakan bioetanol E5 hingga E20 di skala nasional, Eliza mengatakan, pentingnya investasi masif dalam rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.

“Keberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina,” kata Eliza.

Dengan demikian, ketimpangan kemampuan produksi FGE dengan kebutuhan untuk pengembangan bioetanol bisa ditutup secara bertahap tanpa harus bergantung kepada impor etanol.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak (E10) mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20.

Sumber: Antara
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: