Polisi Belum Terima Laporan soal Pengacara Diduga Peras Dwi Korban Anak Bos Roti
BeritaNasional.com - Polres Metro Jakarta Timur ternyata belum menerima laporan polisi (LP) terkait pengakuan Dwi Ayu korban penganiayaan anak bos toko roti yang kena peras oleh seorang pengacara.
Demikian hal itu disampaikan Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly saat dikonfirmasi kesaksian dari Dwi saat rapat bersama Komisi III DPR RI, Selasa (17/12/2024) kemarin.
“Sampai saat ini, belum ada laporan terkait hal itu,” ujar Nicolas kepada awak media, Rabu (18/12/2024).
Karena belum menerima laporan, Nicolas mengaku belum bisa banyak memberikan tanggapan perihal laporan dugaan pemerasan yang dialami Dwi oleh seorang pengacara tersebut.
Sebelumnya, Dwi ternyata juga menjadi korban penipuan dari pengacaranya. Berawal dari Dwi yang mengaku sempat disiapkan pengacara oleh ibu dari tersangka George.
“Ada cerita juga tentang pengacaranya saya sempat dikirimkan pengacara dari pihak pelaku. Tapi awalnya saya gak tahu kalau itu dari pihak pelaku, dia ngakunya dari LBH utusan dari Polda dia ngakunya,” kata Ayu saat RDP, Selasa (17/12/2024).
Usut punya usut, Dwi yang baru tahu saat diminta berita acara pemeriksaan (BAP) penyelidik, kalau pengacara itu dikirim oleh ibu dari George, Linda. Tahu fakta itu, orangtua Dwi pun memutuskan mengganti pengacara.
Bukan mendapat pendampingan hukum, Dwi mengaku malah merasa diperas oleh pengacara tersebut. Tanpa ada kejelasan hukum, sampai keluarganya terpaksa menjual motor satu-satunya demi biaya dimintakan pengacara.
“Kalau saya tanya gimana kelanjutannya dia selalu jawab sedang diproses sedang diproses. Di situ dia setiap ada info dia selalu ke rumah dan minta duit. Mama saya sampai jual motor, jual motor satu-satunya,” ungkapnya.
Setelah itu, Dwi mengaku jika pengacara tersebut hilang tanpa komunikasi lanjutan. Sampai akhirnya, pengacara ketiga Zainudin memberikan pendampingan sampai, George ditetapkan tersangka.
"Habis motor dijual itu saya tanya-tanyain itu sudah enggak bisa dihubungi lagi pengacara itu. Akhirnya saya dihubungi oleh Pak Zainuddin," ungkap Dwi.
Respons DPR
Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi III DPR dari Golkar Irjen (Purn) Rikwanto berharap agar kepolisian yang telah mendapatkan fakta soal pengacara Dwi bisa juga mengusut kasus ini.
“Kasihan korban ini apalagi sampai kehilangan motor ya sudah jatuh ketimpa tangga ditipu pula,” kata Rikwanto.
Maka dari itu, Rikwanto yang hadir dalam RDP kali ini meminta agar Polres Metro Jakarta Timur bisa mengusut dengan jelas siapa pengacara yang diduga telah memeras keluarga Dwi, lantas meninggalkan kasusnya.
"Ya barangkali Pak Kapolres berkenan itu motor yang hilang ya supaya kembali lagi cari pelakunya atau bagaimana Pak Kapolres ya. Kasih tau anggotanya biar lebih gigih lagi dalam rangka menangani kasus kasus yang dilaporkan,” ujar Rikwanto.
Adapun kasus penganiayaan George menjadi ramai, setelah korban pegawai toko roti Dwi Ayu melapor ke polisi. Lantaran, sempat dilempar benda mulai loyang, mesin EDC, kursi, serta patung hiasan, sampai kepalanya terluka.
Penganiayaan itu diterima Dwi, hanya karena menolak suruhan George mengantar makanan pesanannya ke kamar. Meski begitu, alasan Dwi menolak pun kuat, sebab tugas tersebut bukan merupakan pekerjaannya.
Akibat ulahnya, polisi menjerat George dengan Pasal 351 Ayat (1) dan/atau Ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Ia terancam hukuman penjara maksimal lima tahun.
6 bulan yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 4 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu