Stella Christie Ungkap Alasan Swasta Enggan Investasi Riset dan Inovasi di Indonesia

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 19 November 2025 | 18:13 WIB
Stella Christie ungkap alasan swasta enggan investasi riset dan inovasi di Indonesia. (Foto/Kemendiktisaintek)
Stella Christie ungkap alasan swasta enggan investasi riset dan inovasi di Indonesia. (Foto/Kemendiktisaintek)

BeritaNasional.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan alasan yang menyebabkan sektor swasta enggan untuk melakukan investasi dalam bidang riset dan inovasi di Indonesia. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Antara Business Forum yang digelar di Jakarta, Rabu, (19/11/2025).

Stella Christie menyebut, ketiga alasan tersebut adalah regulasi yang belum menguntungkan seluruh pihak, ketiadaan informasi mengenai kolaborasi riset, serta ketersediaan tenaga kerja ahli.

"Satu, begitu kami masuk ke dalam pemerintahan, kami melihat bahwa ada satu yang tidak searah atau tidak sejalan dengan best practices di dunia luar, dengan ekosistem-ekosistem lainnya. Yaitu peneliti di Indonesia tidak diperkenankan untuk mendapatkan insentif langsung jika mereka memenangkan grant (pendanaan) riset," kata Stella.

Oleh karena itu, kata Stella, Kemendiktisaintek secara bertahap berupaya untuk mengubah peraturan yang ada, sehingga para peneliti yang mendapatkan pendanaan riset juga berhak atas insentif yang langsung masuk ke kantong pribadi mereka. Ia menilai, jika negara ingin riset menjadi lebih kompetitif, maka negara harus memberikan insentif kepada mereka.

"Kenapa peneliti harus mendapatkan insentif? Tentu saja di bisnis kalau tidak ada insentif, tidak akan ada yang mau melakukannya. Sama, peneliti pun harus mendapatkan insentif agar mereka mau melakukan inovasi-inovasi baru. Kalau tidak, mereka hanya akan melakukan yang diharuskan, mengajar, memberikan servis, riset seadanya, bukan riset yang kompetitif," terangnya. 

Stella melanjutkan, Kemdiktisaintek juga menjaring berbagai instansi seperti kementerian/lembaga (K/L), pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga sektor swasta, untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dan industri dengan riset yang dapat dilakukan oleh para peneliti di kampus.

Hal itu dapat diwujudkan melalui dashboard informasi yang bisa dibuka oleh siapapun untuk mengakses periset, hasil riset, dan kebutuhan terhadap riset di berbagai daerah di Tanah Air.

"Sehingga, berbagai permasalahan sosial ekonomi yang selalu bisa dilihat dari pandangan bisnis, dari pandangan usaha, ini bisa kita petakan secara ekosistem informasi. Jika anda membutuhkan pakar yang bisa menyelesaikan masalah-masalah anda, anda bisa cari tahu siapa sebenarnya pakar dari masalah tersebut," jelasnya. 

Kemudian, dia menambahkan, untuk mengatasi masalah ketersediaan tenaga kerja ahli, Kemdiktisaintek bekerja sama dengan sejumlah negara maju, seperti China, dalam upaya mengembangkan kemampuan tenaga kerja dalam negeri, melalui berbagai skema beasiswa.

Dalam hal ini, Stella mengungkapkan, Kemendiktisaintek telah bekerja sama dengan sejumlah industri dari wilayah Jiangsu di China. Di sana terdapat lebih dari 12 ribu mahasiswa Indonesia yang sedang/telah menempuh pendidikan untuk menjadi tenaga kerja ahli saat mereka kembali ke Indonesia.

"Kita bisa bekerja sama antara universitas, riset, untuk menghasilkan inovasi dan juga menghasilkan labor supply yang akan bisa mendukung usaha bapak/ibu sekalian dan memajukan ekonomi negara kita," ujar Stella. 

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: