PWNU DKI Dorong Ketum PBNU dan Rais Aam Lakukan Islah di Tengah Konflik Internal

Oleh: Lydia Fransisca
Rabu, 26 November 2025 | 20:19 WIB
Lambang PBNU. (Foto/Sinpo.id/NU Online)
Lambang PBNU. (Foto/Sinpo.id/NU Online)

BeritaNasional.com -  Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Muhyiddin Ishaq mendorong adanya islah antara Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar di tengah memanasnya konflik internal organisasi. 

Ia menyebut dorongan serupa juga datang dari sejumlah pengurus wilayah NU di berbagai daerah.

"Oleh karena itu, teman-teman wilayah se-Indonesia ini berharap kelonggaran hati kedua belah pihak, baik Rais Aam maupun Ketua Umum, untuk bisa dilakukan islah," kata Muhyiddin di kantor PBNU Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

Muhyiddin menegaskan Gus Yahya dan Rais Aam tidak dapat diberhentikan di tengah masa jabatan kecuali melalui muktamar.

Ia mengkhawatirkan muktamar tahun depan justru terancam tidak dapat digelar apabila tidak terjadi rekonsiliasi.

"Saya cuman khawatir, kalau tidak terjadi islah, jangan-jangan nanti bisa 15 tahun enggak Muktamar ini," ujarnya.

Muhyiddin juga meminta para elite PBNU menghentikan penyebaran informasi yang dianggap menyesatkan dan berpotensi memperuncing perpecahan. Namun, ia enggan menyebutkan nama pihak yang dimaksud.

"Jadi saya kira ini perlu diberikan kesadaran terhadap orang-orang yang memberikan informasi yang menyesatkan. Saya enggak sebut nama, saya kira sudah maklum," ucap Muhyiddin.

Sebagai informasi, ketegangan internal PBNU semakin menguat setelah beredar surat edaran terbaru yang menyatakan bahwa Yahya Cholil Staquf tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Surat tersebut disebut sebagai tindak lanjut rapat harian Syuriyah PBNU pada 20 November di Jakarta, yang meminta Yahya mengundurkan diri dalam waktu tiga hari. 

Surat Edaran itu ditandatangani secara elektronik oleh Rais Aam Afifuddin Muhajir dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir.

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: