Pemerintah Terus Tingkatkan Konektivitas Destinasi Wisata

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Rabu, 17 Desember 2025 | 11:35 WIB
Pemerintah tingkatkan konektivitas destinasi wisata (Foto/Pinterest)
Pemerintah tingkatkan konektivitas destinasi wisata (Foto/Pinterest)

BeritaNasional.com - Kementerian Pariwisata memusatkan perhatian pada upaya peningkatan konektivitas destinasi wisata dalam pembangunan sektor pariwisata tahun 2026.

"Konektivitas itu merupakan salah satu kunci dari adanya pergerakan atau peningkatan wisatawan dan itu sudah pasti," kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Januari sampai Oktober 2025, Made menyampaikan, sebanyak 71,52 persen wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia menggunakan pesawat melalui jalur udara.

Oleh karena itu, pemerintah membuka lebih banyak bandara internasional untuk memudahkan wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia.

Made menyampaikan, pemerintah sampai Agustus 2025 sudah membuka 36 bandara internasional, bertambah dari semula 17 bandara internasional.

"Ini bagus sekali ya. Sekarang, bagaimana caranya agar bandar-bandar udara tersebut aktif kemudian persisten dan mendapatkan demand yang tepat, itu yang akan kita lakukan," katanya.

Selama Oktober 2025, BPS mencatat 1,33 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, yang mencakup 1.174.742 kunjungan melalui pintu masuk utama dan 152.775 kunjungan melalui pintu perbatasan.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan mancanegara yang melalui pintu masuk utama selama Oktober 2025, sebanyak 954.216 kunjungan atau 81,22 persen dilakukan melalui jalur udara, 180.516 kunjungan atau 15,36 persen melalui jalur laut, dan 40.010 kunjungan atau 3,41 persen melalui jalur darat.

Selain meningkatkan konektivitas, Made mengatakan, Kementerian Pariwisata menggencarkan promosi destinasi wisata untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Indonesia.

Peningkatan kunjungan wisatawan selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan lapangan kerja, pendapatan, dan pertumbuhan ekonomi.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: