Jelang Ramadan, Kemenag Percepat Pemulihan Fasilitas Ibadah Pascabanjir
BeritaNasional.com - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama mengawal pemulihan layanan keagamaan yang terdampak banjir di Aceh. Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad menegaskan, kehadiran Kementerian Agama tidak hanya untuk mendistribusikan bantuan, tetapi juga memastikan hak beribadah masyarakat tetap terpenuhi di tengah situasi darurat.
“Penanganan pascabencana harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara simultan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang-ruang keagamaan lainnya perlu segera dipulihkan agar tetap berfungsi sebagai pusat layanan umat, terlebih menjelang Ramadan. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti. Ini bagian dari pelayanan dasar yang harus kita jaga bersama,” ujarnya dikutip, Rabu (14/1/2026).
Abu Rokhmad meninjau sejumlah posko kemanusiaan, masjid, Kantor Urusan Agama (KUA), dan madrasah di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, hingga Aceh Utara. Di setiap lokasi, ia berdialog dengan warga, penyuluh agama, tokoh masyarakat, serta relawan untuk memetakan kebutuhan mendesak dan memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran.
Abu menegaskan bahwa Kementerian Agama tidak bekerja sendiri dalam proses pemulihan. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), lembaga amil zakat (LAZ), unsur masyarakat, serta perguruan tinggi. Kolaborasi ini dinilai mampu menghadirkan intervensi yang lebih cepat, terukur, dan berkelanjutan, mulai dari penyediaan dapur umum, air bersih, hingga sarana ibadah.
Di Kabupaten Pidie Jaya, Kemenag meninjau posko BAZNAS yang menyediakan fasilitas MCK darurat dan air bersih, termasuk meunasah yang terdampak banjir. Di lokasi lain, Kemenag bersama LAZ ASAR mendukung operasional dapur umum yang melayani ratusan kepala keluarga, kegiatan gotong royong warga, serta pembersihan area masjid dengan dukungan alat berat. Bantuan berupa alat salat, Al-Qur’an, mukena, dan sarung juga disalurkan sesuai kebutuhan lapangan.
Pada sektor pendidikan keagamaan, Abu memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan. Peninjauan dilakukan di MIN 4 Pidie Jaya yang telah direnovasi oleh LAZ, termasuk penyediaan madrasah sementara agar aktivitas pendidikan tidak terhenti pascabencana. “Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” katanya.
Di Kabupaten Bireuen, Abu meninjau dapur umum yang melayani puluhan hingga ratusan keluarga dengan jadwal makan teratur, penyaluran beras, serta bantuan air bersih melalui sumur bor. Ia menilai meunasah dan masjid memiliki peran strategis sebagai simpul layanan sosial-keagamaan yang menyatukan bantuan, pembinaan, dan pemulihan psikososial.
Abu juga menekankan pentingnya pembinaan keagamaan dan dukungan psikologis bagi warga terdampak. Sejumlah kegiatan seperti pengajian, pembagian Al-Qur’an dan Iqra, serta trauma healing dilakukan dengan melibatkan relawan dan pemangku kepentingan zakat dan wakaf. Berbagai fasilitas pendukung ibadah, seperti filter air minum, tandon air, dan perangkat suara, turut disiapkan.
“Peran KUA menjadi perhatian khusus. Kami meninjau KUA di wilayah terdampak untuk memastikan layanan pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap berjalan. Ia menegaskan KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” imbuhnya.
Selain bantuan berbasis kolaborasi, Kementerian Agama juga menyalurkan bantuan langsung berupa sarung, mukena, sajadah, mushaf Al-Qur’an, dan tikar ke sejumlah lokasi kunjungan. Bantuan tersebut melengkapi dukungan anggaran yang telah dialokasikan Kemenag untuk pemulihan layanan keagamaan pascabencana.
Abu menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mengawal proses pemulihan secara bertahap dan berkelanjutan. Ia berharap sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan masyarakat dapat mempercepat pemulihan sekaligus memperkuat ketahanan sosial-keagamaan warga terdampak.
Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, unit zakat dan wakaf, BAZNAS, berbagai LAZ nasional, penyuluh agama, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh masyarakat, serta dukungan civitas akademika, termasuk kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry dalam kegiatan kemanusiaan dan pendampingan masyarakat.
Sebelumnya, Bimas Islam juga menyalurkan bantuan pascabencana di Padang, Sumatra Barat, senilai Rp1,075 miliar yang bersumber dari anggaran Kemenag dan dukungan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI). Bantuan tersebut mencakup rehabilitasi tiga KUA, pengadaan meubelair, serta donasi bagi penghulu, tokoh agama, dan majelis taklim terdampak. Selain itu, dalam APBN Kemenag juga dialokasikan anggaran sebesar Rp1,860 miliar untuk pembangunan gedung KUA sebagai bagian dari upaya memastikan layanan keagamaan tetap berjalan optimal pascabencana.
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







