AS Sebut Terbuka untuk Dialog, Trump Justru Perkeras Ancaman ke Iran

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 03 April 2026 | 09:11 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto/X Donald J Trump)
Presiden AS Donald Trump (Foto/X Donald J Trump)

BeritaNasional.com - Pemerintah Amerika Serikat kembali menegaskan keterbukaannya terhadap jalur diplomasi dengan Iran di tengah berlanjutnya konflik antara AS dan Israel melawan Teheran. Namun di saat yang sama, Presiden Donald Trump memperbarui ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Kamis menyatakan bahwa Trump sebelumnya telah membuka jalur komunikasi dengan Iran sebelum konflik pecah. Meski demikian, Washington menuduh Teheran terus berupaya mengembangkan senjata nuklir.

“Presiden selalu terbuka terhadap diplomasi, tetapi beliau juga telah menegaskan bahwa tujuan-tujuan beliau akan tercapai di sini,” ujar Pigott dikutip dari Al-jazeera, Jumat (3/4/2026).

Trump sebelumnya menyampaikan pidato kepada publik pada Rabu malam, mengklaim bahwa AS memenangkan perang, namun tidak merinci bagaimana konflik tersebut akan diakhiri. Ia juga tidak memaparkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, yang penutupannya oleh Iran memicu lonjakan harga energi global.

Konflik ini bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, hanya beberapa hari setelah perundingan di Jenewa yang disebut berlangsung positif oleh mediator Oman dan pejabat Iran. Pada konflik sebelumnya tahun lalu, AS juga membom tiga fasilitas nuklir utama Iran dalam operasi yang disebut Gedung Putih sebagai “Midnight Hammer”.

Pigott menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas Washington.

“Setelah serangan Juni 2025, pintu diplomasi kembali terbuka, namun kita melihat rezim Iran terus melanjutkan upaya untuk mendapatkan senjata nuklir,” katanya.

Namun pernyataan pemerintah AS ini kontras dengan keterangan Kepala Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang sebelumnya menyebut Iran tidak sedang membangun senjata nuklir. Bahkan, Gabbard juga menyatakan tidak ada upaya Teheran untuk memulihkan kapasitas pengayaan uranium pasca serangan AS.

Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium di dalam negeri, serta menolak negosiasi terkait program rudal dan dukungannya terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Hamas.

Pigott menambahkan bahwa AS saat ini aktif melakukan keterlibatan diplomatik di Timur Tengah sembari tetap mengejar tujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran.

“Yakinlah bahwa kami melihat keterlibatan diplomatik di tingkat tertinggi pemerintahan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Iran terus membalas serangan dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan, termasuk aset AS, fasilitas energi, serta lokasi sipil seperti hotel dan bandara.

Ketegangan meningkat setelah Trump membagikan rekaman serangan AS terhadap jembatan sipil di Iran dan mengancam serangan lanjutan. Dalam unggahannya, ia memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan sebelum “tidak ada lagi yang tersisa” dari negara tersebut.

Selain itu, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi air Iran. Para ahli hukum internasional menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai hukuman kolektif yang dilarang.

Peneliti Stimson Center, Barbara Slavin, menilai langkah Trump sebagai upaya meningkatkan tekanan sebelum mengakhiri konflik.

“Saya pikir Donald Trump sedang mencari cara untuk mengakhiri perang tanpa harus mengalami kegagalan total,” kata Slavin.

Sumber: Al-jazeerasinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: